Misteri Aroma Daging Terbakar di Area Pertokoan Klender

Misteri Aroma Daging Terbakar di Area Pertokoan Klender

– Area pertokoan Klender dulu terimbas kerusuhan terhadap momen 1998. Bekas kerusuhan ini sesudah itu menjadi pemicu desas-desus cerita hantu area pertokoan Klender. Konon, ada warga yang mencium bau daging terbakar di sekitar kawasan itu.
Salah satu titik kerusuhan ini ada di Plaza Yogya Klender. Dikutip berasal dari web site jakarta.go.id, terhadap awalnya Plaza Yogya Klender dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang lengkap bersama kehadiran toko serba ada, bioskop, diskotik, restoran, area bermain anak yang lumayan dikenal di kalangan warga Klender dan sekitarnya.
Toko serba ada Yogya yang ada di dalam plaza tersebut, merupakan salah satu berasal dari Toserba Yogya milik Yogya Group. Sebuah kelompok perusahaan ritel di Indonesia bersama format supermarket dan departement store yang beroperasi di wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Jawa Tengah.

Dari temuan seorang peneliti, Ester Indahyani Yusuf dan kawan-kawannya, dijelaskan bahwa kejadian terhadap tanggal 14 Mei 1998 di Plaza Yogya Klender itu di mulai terhadap pagi hari.

Pada pukul 09.00 WIB, Yogya Plaza sempat buka namun sesudah itu ada instruksi untuk menutup plaza dan seluruh karyawan disuruh turun terlihat gedung. Kemudian pukul 10.40 WIB, makin lama banyak massa berkumpul di sekitar Yogya, diantaranya massa termasuk terlihat kumpulan anak-anak sekolah yang dipulangkan lebih cepat.

Bertepatan bersama jam terlihat sekolah tersebut, beberapa besar berasal dari anak-anak itu termasuk berkumpul di pusat pertokoan Yogya Klender yang pada mulanya sebetulnya telah banyak massa berkumpul. Sekitar pukul 12.00 WIB, berjalan perkelahian pelajar di sekitar Jl. I Gusti Ngurah Rai, mereka saling melempar batu. Sekitar 30 orang pelajar masuk pemukiman namun diusir warga, gara-gara warga kuatir dirugikan mereka. Entah bagaimana, kerusuhan pun berjalan dan meluas. Toko dibakar massa dan korban-korban yang terjebak di dalam toko ikut terbakar.

Perusakan, penjarahan dan pembakaran bangunan ini mengundang banyaknya jumlah korban jiwa yang meninggal berasal dari mereka yang tinggal di sekitar wilayah ini, diantaranya berasal berasal dari kelurahan Jatinegara Kaum. Kejadian ini termasuk menyisakan duka mendalam terhadap banyak keluarga korban dan seluruh bangsa Indonesia sampai saat ini. Dalam Peta Ingatan Tragedi Mei yang dibuat oleh Komnas Perempuan, Plaza Yogya Klender menjadi salah satu titik yang mewakili momen Mei 1998.

Aroma Daging Terbakar Hingga Angkot Hantu

Semenjak itu, area pertokoan Klender kerap diliputi cerita-cerita mistik. Dikutip berasal dari buku ‘666 Misteri Paling Heboh: Indonesia & Dunia’, dulu ada warga yang mengaku mencium aroma daging terbakar saat melintasi area pertokoan itu.

Ada pula warga yang mengaku dulu melihat dua sosok mahkluk yang terbakar dan penuh darah. Selain itu, ada pula warga yang bercerita soal pengalamannya naik angkot dan seluruh penumpangnya orang-orang berwajah gosong.

Cerita-cerita misteri di area perkotoan Klender itu sesudah itu diadaptasi Hitmaker Studio bersama Soraya Intercine Films menjadi sebuah film horor berjudul ‘Mall Klender’ terhadap tahun 2014. Pihak Soraya film saat itu yakin urban legend yang terlampau tersohor ini perlu diangkat menjadi film. Karena mereka yakin itu kisah nyata.

Cerita Hantu di Jalur Kecelakaan Maut Santiong Cimahi

Cerita Hantu di Jalur Kecelakaan Maut Santiong Cimahi

Suatu daerah udah barang pasti punya urban legend yang dipercaya oleh masyarakatnya secara turun temurun. Termasuk di Kota Cimahi yang sebenarnya beberapa kawasannya seakan menegaskan bahwa urban legend yang dikisahkan nyata adanya.
Selain ereveld di Jalan Kerkoff, Leuwigajah yang punya kisah mistis, Jalan Kolonel Masturi, yang termasuk oleh penduduk dikenal sebagai daerah Santiong termasuk menyelipkan satu kisah mistis tersendiri. Apalagi di satu titik, pas melalui jalur yang menghubungkan Cimahi dan Cisarua itu akan melalui dua daerah pemakaman di sisi kiri dan kanan.

Dari arah Cimahi, satu kilometer dari persimpangan Citeureup, kita akan melalui permakaman Santiong di sisi kiri dan TPU Muslim Cipageran di anggota kanan.

Layaknya pemakaman, selamanya ada cerita-cerita horor yang mengiringi keberadaannya. Apalagi, di ruas jalur yang konturnya menurun curam itu sempat berlangsung beberapa kejadian kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa.

Kecelakaan paling kronis berlangsung terhadap tahun 2016 silam. Sebuah bus pariwisata menabrak lima kendaraan sampai mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia.

Lalu apa hubungannya? Banyak warga percaya jikalau pas kita melintas kawasan tersebut, tidak boleh laksanakan hal-hal sembrono maupun berbicara seenaknya atau didalam bhs Sunda dikenal dengan ‘sompral’.

Komarudin, warga setempat, menyebut apabila sompral pas melalui Jalan Kolonel Masturi maka bukan tidak bisa saja pengendara akan lihat sosok penunggu yang menyerupai sesosok pria tanpa kepala. Belum ulang kabarnya ada kuntilanak yang bergelayut di atas pohon bambu yang sebenarnya layaknya memayungi sisi kiri dan kanan di dekat dua kuburan.

Suasana seram yang terpancar dari daerah tersebut, seakan diperkuat dengan minimnya penerangan jalur yang ada. Jika diamati dari atas maupun bawah, Jalan Kolonel Masturi terhadap jadi hari mirip lorong panjang gelap yang tak punya ujung.

Namun jikalau berbicara dari sisi lain, kawasan Jalan Kolonel Masturi yang masuk ke wilayah Kecamatan Cipageran punya nilai sejarah yang kental. Sebab di makam yang dianggap angker oleh masyarakat, justru merupakan daerah bersemayamnya jasad dua leluhur Cimahi zaman dulu.

Di TPU Cipageran misalnya, ada makam Mbah Wirasuta dan istrinya Eyang Fatimah Sariwangi yang ditaruh di bangunan spesifik di tengah daerah permakaman.

“Bagi penduduk Cimahi terlebih Cipageran, mereka dianggap sebagai leluhur gara-gara mengakses wilayah Cipageran jadi permukiman dan berperan menyebarkan Islam di wilayah ini,” kata praktisi sejarah dan ketua Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok.

Cipageran termasuk mampu jadi merupakan cikal akan lahirnya Cimahi sebagai anggota dari distrik Cilokotot terhadap jaman penjajahan Belanda dulu. Sebab dipercaya jikalau Kedatangan Mbah Wirasuta di daerah berikut lebih pernah ketimbang pembangunan Jalan Anyer Panarukan oleh Daendels terhadap 1811.

“Bisa jadi Cimahi ini sebenarnya berawal dari Cipageran. Tapi yang penduduk ingat dari Santiong ini justru cerita-cerita mistisnya. Padahal kita menyadari nilai sejarahnya terlampau kental,” terangnya.

Misteri Maung Bungkeleukan hingga Nenek Penjual Kol di Gunung Guntur Garut

Misteri Maung Bungkeleukan hingga Nenek Penjual Kol di Gunung Guntur Garut

Gunung Guntur di Garut, Jawa Barat menaruh segudang cerita mistis di balik panorama dan keindahan alamnya. Satu dari sekian banyak mitos yang ada di sana adalah larangan meniup suling dan juga maung bungkeleukan (penampakan macan-red)
Gunung bersama tinggi 2.249 mtr. di atas permukaan laut (MDPL) ini terdapat di Kecamatan Tarogong Kaler. Di balik keindahannya, ternyata Gunung Guntur menaruh beragam misteri.

Dari sekian banyak misteri yang ada, ada dua mitos yang hingga kini tetap dipercayai masyarakat setempat. Kedua mitos tersebut adalah larangan meniup suling dan legenda maung bungkeleukan atau macan gentayangan.

Sebagian masyarakat setempat tetap mempercayai terdapatnya mitos larangan meniup suling di Gunung Guntur. Seperti dirasakan Uche (38), seorang warga Cimanganten, Tarogong Kaler.

“Kalau kata orang tua mah maung bungkeleukan. Kalau ada yang niup suling, maung bungkeleukan akan menampakkan diri katanya,” ujar Ucheu.

Mitos perihal larangan meniup suling, sambung Ucheu, tentang bersama legenda maung bungkeleukan. Berdasarkan cerita yang dikisahkan orang tuanya, maung bungkeleukan akan menampakan diri disaat seseorang meniup suling di Gunung Guntur.

Terkait hal tersebut, beberapa pas silam detikcom dulu berbincang bersama Ening Maidah, seorang nenek masyarakat Kampung Bojong Masta, Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler.

Ening mengatakan, mitos larangan meniup suling dan maung bungkeleukan sebetulnya dikisahkan oleh orang tua zaman dahulu kepada anak-anaknya.

Namun sepengetahuan Ening, mitos tersebut tentang bersama masa pemberontakan DI/TII di Jawa Barat th. 60an lalu.

“Gak boleh niup suling itu artinya gak boleh ribut. Dulu kan tetap ada DI/TII di sekitaran sini. Seingat emak, ABRI itu menyuruh diam ke warga pas menangkap anggotanya DI/TII. Biar gak terhadap kabur,” kata Ening.

Ening mengatakan sekitaran Gunung Guntur dulunya dipakai sebagai daerah persembunyian pasukan DI/TII. Anak kecil pas itu dilarang berisik terutama pas malam hari untuk jauhi gerombolan DI/TII.

“Kalau tidak salah, pas itu Pak Karto (Kartosoewirjo) ditangkapnya kan di sekitaran sini. Di Gunung Geber (berdampingan bersama Gunung Guntur),” katanya.

Menanggapi hal tersebut, sejarawan Garut Warjita membuka suara. Menurut Warjita, mitos maung bungkeleukan cuman cerita yang beredar di masyarakat tidak ada dalam histori Gunung Guntur.

“Kalau maung bungkeleukan saya baru dengar. Itu tidak ada dalam histori Gunung Guntur tapi mungkin ceritanya beredar dan dipercayai masyarakat setempat,” katanya.

Warjita mengatakan, cerita maung bungkeleukan tidak ada dalam histori Gunung Guntur. Namun, cerita tersebut merupakan cerita turun-temurun yang dikisahkan sesepuh setempat kepada anak-cucunya.

“Tapi kalau dengar cerita dari masyarakat setempat dan kaitannya bersama pemberontakan DI/TII itu masuk akal juga. Namun, sejauh yang saya ketahui, maung bungkeleukan itu tidak ada dalam sejarahnya,” tutup Warjita

Hingga kini, setidaknya sejak th. 2000an, mitos perihal maung bungkeleukan itu tidak dulu terbukti. Meski begitu, kerap berlangsung keanehan-keanehan di Gunung Guntur.

Yang terbaru, keanehan berlangsung dalam hilangnya Afrizal, seorang pendaki yang menghilang di Gunung Guntur beberapa pas lalu.

Afrizal hilang misterius sehabis kencing sembrono di sana. Dia berhasil ditemukan tim SAR dua hari kemudian.

Selain itu, keanehan di Gunung Guntur terhitung dulu dirasakan Atin (43). Ibu dua anak ini mengaku dulu memandang sosok nenek-nenek yang berjualan kol di Gunung Guntur. Begini kisahnya

“Saat itu saya, anak dan suami olahraga jalur kaki di kaki Gunung Guntur. Kita berjumpa serupa nenek-nenek telah terlampau tua. Dia menawarkan kol pas kami berlangsung ke arahnya,” Kata Atin.

Atin mengatakan, dikarenakan tengah olahraga, mereka menolak tawaran sang nenek. Mereka lantas bergegas ulang berlangsung melalui sang nenek dan konsisten menanjak ke Gunung Guntur.

“Nah, sekitar 100 meteran jalan, dikarenakan kami rasa telah memadai jauh, kami memastikan untuk ulang ulang ke bawah. Tapi tepat kami balik ulang nenek itu telah enggak ada,” ucap Atin.

“Saya pikir aneh terhitung dikarenakan situasi nenek itu telah terlampau tua pas dilihat. Dia enggak mungkin mampu jalur cepat. Selain itu, situasi di wilayah pas itu adalah jalur tanpa ada halangan. Enggak ada belokan atau turunan juga. Kita aneh terhitung pas itu si nenek ke mana,” tutup Atin.

Meskipun begitu, Gunung Guntur tetaplah primadona terutama bagi para penggemar hiking. Gunung Guntur memiliki track yang disebut-sebut terlampau cocok untuk pemula.

Selain itu, Gunung Guntur terhitung memiliki panorama indah dan juga hamparan padang ilalang yang kerap dijadikan spot foto oleh wisatawan.

Satu-satunya hal menakutkan yang terlampau berlangsung di Gunung Guntur adalah pungli dan pemalakan yang kerap dijalankan oleh oknum masyarakat tak bertanggungjawab.

Polisi beberapa pas selanjutnya dulu mengamankan seorang warga yang memalak wisatawan yang hendak mendaki ke puncak Gunung Guntur.

Misteri Dibalik Keindahan Telaga Sarangan

Misteri Dibalik Keindahan Telaga Sarangan

Misteri Dibalik Keindahan Telaga Sarangan

 

Telaga Sarangan merupakan danau alami yang berada di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur merupakan keliru satu destinasi wisata.

Telaga bersama luas sekitar 30 hektar dan ditengahnya terdapat semacam pulau kecil ini alamnya terlalu elok gara-gara diliputi kondisi teduh, dingin, dan fresh bersama banyak pepohonan rindang.

Dibalik itu semua, telaga ini menyimpan sebagian misteri yang menakutkan dipercayai keberadaanya oleh masyarakat sekitar bahwa telaga ini dihuni oleh sejumlah makhluk halus.

Misteri pertama mengisahkan berkenaan terdapatnya dua ekor naga raksasa yang menghuni tempat itu. Konon, telaga ini bahkan sebetulnya dibikin oleh ke-2 naga.
Pasang Bola
Dalam cerita rakyat Magetan, dahulu saat hiduplah sepasang suami istri petani bernama Kyai Jalilung dan Nyai Jailung. Suatu saat, Kyai Jalilung merasa lapar dan tunggu kiriman makanan dari suaminta namun istrinya tak kunjung datang.

Ia mengambil keputusan mencari makanan lain. Ia lantas menemukan sebutir telur raksasa. Telur itu lantas dibakar dan segera disantap. Karena saking besarnya, ia cuma memakan separoh dan sisanya dibiarkan tergeletak.

Istrinya mampir dan lantas memakan sisa telur tersebut. Keanehan pun terjadi. Beberapa lama setelah makan telur, ke-2 orang itu kepanasan agar menceburkan diri air pancuran terdekat. Mukjizat terjadi, sepasang suami istri itu lantas beralih jadi naga raksasa.

Karena badannya jadi membesar, tempat pancuran air itu ikut beralih jadi luas dan di dalam di mana jadi tempat bersarangnya ke-2 naga. Sejak itu, tempat itu dinamakan Telaga Sarangan.

Misteri ke-2 sanggup dibuktikan bersama terdapatnya ritual yang kental bersama unsur supranatural yang teratur diselenggarakan di Telaga Sarangan. Ritual itu dimaksudkan untuk menghargai Kyai Pasir dan Nyi Pasir yang dipercaya udah moksa jadi dua naga besar penunggu telaga tersebut.

Ritual diselenggarakan pada hari Jumat kliwon, yang jatuh pada bulan Ruwah menurut penanggalan Jawa. Ritual ini ditandai bersama menebarkan sesaji di di dalam telaga. Warga dan para sesepuh beramai-ramai mengikuti acara tersebut.

Dalam keyakinan warga setempat, ritual dijalankan untuk tolak bala atau hindari dari marabahaya dan sekaligus untuk menghargai roh-roh leluhur. Dengan melarung sebagian harta (hasil bumi dan ternak) di telaga diinginkan masyarakat mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Misteri ketiga adalah terdapatnya keyakinan bahwa di telaga itu terdapat lubang besar. Anehnya, lubang tidak selalu sanggup dilihat oleh orang. Tidak diketahui pula apakah lubang itu tersedia hubungannya bersama dua naga raksasa yang udah disebutkan di awal.

Misteri keempat adalah fenomena kabut yang kadang turun menyelimuti Telaga Sarangan. Di satu sisi, keberadaan kabut menyebabkan indah panorama namun di segi lain, datangnya kabut dipercayai sebagai berarti bahwa penunggu telaga tengah nampak dari sarangnya.

Misteri kelima adalah larangan bagi sepasang kekasih yang memadu asmara di tengah telaga. Konon, apabila perihal itu dilakukan, kapabilitas gaib akan menyebabkan mereka celaka.

Kutukan sanggup bermacam rupa. Bisa menyebabkan hubungannya kandas sebelum pernikahan, tersedia juga malapetaka berupa lain layaknya percekcokan sampai perceraian setelah menikah. Mitos ini udah terkenal jadi buah bibir di Magetan.

Misteri keenam adalah tingginya angka korban meninggal di sekitar Telaga Sarangan. Korban meninggal bukan cuma gara-gara tenggelam, tak jarang kecelakaan maut juga sering berjalan di tempat sekitar Telaga Sarangan.

Pada Kamis (13/6/2019) sore, tersedia perihal menghebohkan warga akibat seorang wisatawan yang tengah piknik keluarga ditemukan tewas akibat tenggelam di telaga itu.

Seperti udah di informasikan sejumlah sarana massa, aparat kepolisian menjelaskan bahwa korban berinisial DS (41), warga Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun.

Sebelum jenazah korban ditemukan, warga sempat mengusahakan lakukan pencarian dan tidak menemukaannya. Pencarian lantas dibantu petugas gabungan dari BPBD Magetan dan Polres Magetan dan kelanjutannya sanggup diketemukan daam kondisi udah meninggal.

Berdasarkan informasi di lapangan dan info saksi, peristiwa selanjutnya bermula saat korban mampir ke Telaga Sarangan untuk berwisata bersama istri dan anaknya.

Korban berniat menyita air telaga untuk dimasukkan ke di dalam botol bekas air mineral. Rencananya air itu akan dibawa pulang sebagai tanda cinta kepada istrinya gara-gara air telaga menurut mitosnya sanggup menyebabkan seseorang awet muda.

Mungkin gara-gara kurang hati-hati, saat menyita air selanjutnya korban terpeleset dan jatuh ke telaga. Korban sempat berteriak minta tolong gara-gara tidak sanggup berenang, Namun, tidak tersedia orang yang berani menolongnya.

Sayang, ketika petugas datang, DS udah terlanjur tewas tenggelam. Jasad korban kemudiaan dibawa ke Polsek Plaosan guna dijalankan pemeriksaan. Dari hasil identifikasi jenazah tidak ditemukan terdapatnya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

Mistis di Balik Gedung Berwana Peach Karanganyar

Mistis di Balik Gedung Berwana Peach Karanganyar

Mistis di Balik Gedung Berwana Peach Karanganyar

Ada cerita mistis di balik gedung berwana peach yang terletak di Jalan Lawu Timur Terminal Karangpandan, Karanganyar. Di gedung inilah, pemimpin kawedanan (wedana) Karangpandan dulunya berkantor.

Lalu layaknya apa cerita mistis di balik gedung bekas kantor Kawadenan ini?

Wedana merupakan pembantu bupati yang memimpin lebih dari satu camat. Karanganyar terhadap era penjajahan Belanda dibagi menjadi tiga wilayah kawedanan yakni Kawedanan Karanganyar, Kawedanan Karangpandan, dan Kawedanan Jumapolo.
Taruhan Bola
Setelah proklamasi, Karanganyar bertambah satu wilayah kawedanan yakni Kawedanan Wonoharjo. Salah satu mantan pegawai Kawedanan Karangpandan, Soekarno (71) menjelaskan, Kawedanan Karangpandan membawahi enam kecamatan yaitu, Kecamatan Karangpandan, Kecamatan Matesih, Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Jenawi, dan Kecamatan Kerjo.

“Saya bekerja di kantor Kawedanan Karangpandan sejak 1970. Saya tidak mengerti sama histori bangunan tersebut. Mungkin dulu rumah milik Mangkunegaran. Kemudian, oleh pemerintah dijadikan sebagai rumah dinas dan kantor. Tidak mesti memicu gedung baru untuk kantor Wedana,” katanya kepada Solopos selagi ditemui di rumahnya.

Pada 1970, Wedana Karangpandan dibantu enam pegawai yakni kepala kantor, bidang pemerintahan, juru bayar, bagian surat, pelayanan, dan penjaga malam. Selama 30 th. Karno bertugas di kantor tersebut, sudah ada 10 kali pergantian wedana dan menambahkan pegawai.

Di kompleks tersebut, terkandung satu rumah dinas. Di timur rumah dinas berdiri bangunan musala baru. Berjalan ke sisi barat rumah, terdengar aliran air irigasi yang tertutup beton.

Di sisi barat rumah dinas, terkandung pendapa dan kantor. Sisi paling barat, ada satu kolam. Rumah dan kantor tertutup rapat agar Solopos tidak mampu masuk.

“Dulu bangunan hanya rumah dinas, garasi, pendapa, kantor, dan kolam. Musala dibangun dinas pariwisata. Wedana dan keluarga tinggal di rumah tersebut. Kolam tidak layaknya sekarang, saat ini kolamnya kecil. Pagar hanya terbuat berasal dari bambu dan banyak pohon besar,” kata dia.

Dia menjelaskan, rumah dinas wedana itu terdiri atas enam ruangan, yakni satu kantor wedana, tiga kamar tidur, satu ruangan perkakas, dan satu kamar kosong. Dia mengatakan kamar kosong berikut tidak dipakai sebab konon miliki cerita mistis.

“Orang tidak boleh tidur di ruangan itu. Kalau ada yang berani tidur di kamar tersebut, secara tidak mengerti dia bergeser tempat,” kata dia.

Karno mengatakan sejak 1975 kantor camat dipindahkan ke wilayah masing-masing. Kantor pembantu bupati tetap beroperasi sampai dilikuidasi terhadap 2000. Seluruh pegawai dipindahkan ke kantor dinas.

Dia mengatakan terhadap 2002 kantor kawedanan disewakan kepada Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah selama 10 tahun. Kini, kantor kawadenan tidak dipakai. Pedagang kira-kira terminal memanfaatkan beranda bangunan untuk menaruh meja dan kursi.

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar sebagai pengelola bangunan memiliki rencana menjadikan bangunan itu sebagai rumah kreatif Karanganyar.

Misteri Jembatan Panus Depok

Misteri Jembatan Panus Depok

Misteri Jembatan Panus Depok

ANGIN malam yang dingin nampaknya telah tidak ulang dapat mengalihkan perhatian saya berasal dari Furi Harun, perempuan indigo yang tengah bertemu Stefanus si hantu pembuat jembatan. Stefanus merupakan pria Belanda yang diekspresikan punyai tinggi badan 189 cm dengan perkiraan umur 43 tahun.

Sambil berbincang dengan kami, matanya tetap lihat tajam ke arah sebuah pohon tinggi di sisi jembatan, area Stefanus biasa berdiam. Menurut Furi, Stefanus mampir dengan dengan anjing kesayangnya. Furi pun tidak sendiri, di lengan kirinya boneka chika, yang merupakan boneka kuman thong, setia menemani dia.
Bandar Taruhan
“Terima kasih,” kata Furi menyita nafas, lalu melanjutkan “Dia mengucapkan terima kasih karena pada akhirnya ada yang mampir untuk memberikan cerita yang real perihal dia. Enggak membawa dampak keributan, supaya kekuatan negatif lain menyingkir,” ucap Furi tanpa melepas tatapannya.

Furi ulang menjelaskan, anjing putih kesayangan Stefanus itu menjemput ajal 6 jam sehabis Stefanus ditembak, tapi penyebab kematiannya berlainan dengan Stefanus. Furi pun diam sejenak. “Namanya Heli anjing putihnya,” paham Furi.

Tapi, yang membawa dampak Stefanus sendiri bingung adalah kenapa istrinya turut bunuh diri dua hari sehabis dia meninggal. Meski begitu, dia tidak menyalahkan siapa pun, menurut Furi, Stefanus percaya bahwa yang menimpa mereka adalah nasib yang mesti mereka jalani. Saat ini, mereka pun tetap betah berada di jembatan tersebut.

Tapi, lanjut Furi, Stefanus mengungkapkan kekesalannya terhadap orang-orang yang kerap melenyapkan kelapa, karena itu pada akhirnya jadi kekuatan yang negatif. Saya tak ingat sejak kapan menghambat nafas, saya amat fokus mendengar cerita Furi, yang tak dulu melepas pandangannya berasal dari arah pohon.

Tapi kata-kata sesudah itu ulang memaksa saya menghambat nafas. Furi bercerita bahwa ada moment mutilasi tujuh tahun yang lalu ada yang dimutilasi dan dibuang di sini. Saya pun berupaya mengali-gali ingatan saya terhadap moment 7 tahun lalu.

Ya, di 2012 sebenarnya sempat ada dua orang berbaju hitam melenyapkan karung goni, berasal dari karung selanjutnya menetes bercak darah yang tersisa di jalanan dan pagar jembatan. Memang terhadap pada akhirnya polisi tidak dulu menemukan isikan karung selanjutnya karena hilang dibawa derasnya arus. Tapi, penelitian uji laboratorium membuktikan bahwa bercak darah selanjutnya adalah darah manusia.

Rasanya inginkan saya nimbrung omongan selanjutnya dan menanyakan soal korban mutilasi tersebut. Tapi tenggorokan saya jadi tercekat, dan membawa dampak saya hanya menggumam sendiri saja. Padahal, menurut Furi banyak “warga” di situ tidak dulu menggangu sekitarnya, mereka hanya tinggal di sana.

Lantas, siapa warga itu? Sekali lagi.. tanpa mesti saya bertanya, Furi nampaknya dapat membaca asumsi saya. Warga di sana adalah mereka yang meninggal saat membangun jembatan tersebut. Menurut Stefanus, jembatan itu sebenarnya dibikin untuk masyarakat Indonesia, hanya saja peralatan yang belum lumayan membawa dampak potensi kecelakaan kerja meningkat.

“Itu membawa dampak banyak sekali rakyat yang meninggal karena memikul barang amat berat. Seperti ngambil batu, supaya leher hampir putus,” ucap Furi seperti mengulangi pesan Stefanus.

Bagimana tidak, jembatan selanjutnya ternyata hanya dibikin berasal dari media putih telur dan tanah. Menitip uang berkutang, menitip kata bertambah, barangkali inilah yang berjalan terhadap kisah jembatan Panus. Rumor yang beredar tambah pembangunan Jembatan Panus mesti menumbalkan kepala.

Dengan tenang Furi pun terus mengisahkan alasan stefanus tetap merawat area ini, tidak lain karena dia amat berterima kasih terhadap rakyat zaman dulu yang telah menolong membangun jembatan ini. Sayangnya, rumor yang menempel di Jembatan Panus ini seakan negatif karena banyak kejadian bunuh diri dan pembunuhan yang pada akhirnya mengotori jembatan.

Furi tiba-tiba terdiam lumayan lama, dia keluar tengah mencermati dengan seksama apa pesan Stefanus selanjutnya.

“Dia inginkan dikunjungi hari Kamis pukul 11 siang, karena itu adalah jam dia ditembak. Atau kalau mau hari Sabtu jam 11 siang karena itu saat istrinya lompat ke basic jembatan. dia amat welcome,” ungkap Furi memberikan pesan Stefanus.

Cerita Furi sebenarnya lumayan membawa dampak kita tenang, karena percaya dia bukan hantu saja. Hanya saja, tiba-tiba dia menyebut. “Dia senang sama keliru seorang laki-laki di sini, karena sebenarnya punyai obyek inginkan menguak fakta, bukan hanya karena pekerjaan,” ucapan Furi itu pun membawa dampak saya diam, takut, senang, risau bercampur jadi satu.

“Yang mana, di sini banyak laki-lakinya,” lanjut Furi lihat beberapa kru. Saya pun turut lihat teman-teman lainnya dengan perasaan bertanya-tanya, barangkali mereka pun sama bingungnya dengan kami.

Furi yang lihat pun sedikit tertawa. Kata-kata dia sesudah itu sebenarnya sepertinya di luar skenario awal kami. “Ada yang mau dijadiin mediator?,” kata Furi sambil tersenyum.

Kami yang tidak siap pada akhirnya diam saja, tidak ada satu pun yang mengajukan diri. Saya pun tidak terfikir tubuh saya dimasuki oleh roh lain. Akhirnya Furi pun menggagalkan acara mediasi tersebut. “Just let it flow ya,” tutur dia.

Furi pun memberi pengertian ke kami, biarpun tengah gerimis tapi ini adalah best moment spirit inginkan memberikan sesuatu, dan inilah yang dia maknai berasal dari ghost hunting. “Apa sih arti ghost hunting? Apa mesti buat keribuatan, gaduh, heboh lalu kita pergi? Kalau menurut saya sih enggak,” katanya.

Di tengah penjelasannya itu, tiba-tiba Furi berhenti lantaran ada keliru satu kru Okezone yang mual. Dia pun mencegah dari ke ujung jembatan untuk hindari kekuatan negatif. Furi pun melanjutkan penjelasannya yang sempat terpotong. “Jadi sehabis bertemu, ada sebuah pesan yang mesti dirilis, supaya jadi berita yang benar,” katanya.

Perempuan ini melanjutkan, sebenarnya saat mampir ke Indonesia Belanda banyak sekali menyakiti rakyat Indonesia. Tetapi dia berupaya saat membangun jembatan ini, dia membangunnya dengan hati. “Meskipun dalam jangka saat yang lama…” tiba-tiba Furi menengok ke bawah seakan kakinya digigit serangga.

Saya pun lihat ke arah kaki Furi, sebenarnya dia hanya mengenakan celana cuman lutut. Mungkin digigit nyamuk pikir saya, sayangnya dugaan saya meleset 100 persen. “Kok ada kepala ya, oke,” kata Furi sambil lihat ke bawah seakan menyuruh kepala itu pergi.

Saya yang tadinya telah jadi mengantuk, karena jadi jadi nyaman tiba-tiba segara kala Furi berkata seperti itu. Jantung saya pun berdesir, udara dingin ulang saya rasakan semakin menusuk. Saya lihat Furi yang memblakangi kamera, seakan mencari ke mana kepala itu hilang.

“Mungkin tadi ada yang nanya ya, mbak Furi ngelihat kepala enggak, trus saya bilang enggak, trus dia beneran muncul. Ada yang lihat ga sih?,” tanyanya ke kami. Saya hanya menggeleng pelan sambil mencoba mencerna apa yang telah terjadi. “Gw jadi kayak kekhawatiran sendiri jadinya,” lanjut Furi.

Selang beberapa detik, Furi ulang memblakangi kamera, dia pun seakan menegur kepala yang inginkan turut tampil itu. “Oke anda ada, tapi nanti ya ceritanya,” katanya berbincang dengan kepala tersebut.

Setelah menyita nafas, Furi pun ulang melanjutkan kisah pembangunan jembatan tersebut. “Jadi sehabis membangun ternyata dia tidak dipulangkan ke Belanda, tapi tambah ditembak oleh dua tentara Jepang di hari Kamis jam 11 siang,” paham Furi.

“Jadi kalau anda mau ke sini, merasakan kekuatan yang ada di sini, energinya amat besar, amat ramai, tapi kekuatan itu bakal tergantung niat sendiri. Kalau sebenarnya baik, mau dengar cerita dan kita kasih koin, Insya Alllah mereka bakal amat open,” katanya.

Furi diam sejenak, lalu melanjutkan ceritanya. Saya pikir Furi bakal menceritakan kisah sambungan Stefanus, tapi dia tambah mengulas perihal kepala menggelinding barusan. “Kepala itu namanya Mamat. Dia sampai saat ini tetap mencari badannya ada di mana. Tapi saya bilang itu pekerjaan yang amat susah dilakukan, jadi Mamat yang mengganggu kita yang ada di sini, silahkan kalau mau cerita,” kata Furi.

Namun, Furi tampak mengunrungkan niatnya, wajahnya membuktikan rasa tidak nyaman. “Mamat itu agak serem. Jadi saya enggak amat nyaman terhitung ngelihatnya. Ok Mat, anda di belakang saya saja Mat,” kata Furi sambil membawa dampak gestur menyuruh ganti dengan tangannya.

“Dia bilang dia dibunuh, dipotong-potong, karena dia berselingkuh. Dia dibunuh oleh selingkuhan istrinya dan dia dibunuh, beritanya ada di koran, dan mayatnya ditemukan di sini. Kita cek lah nanti kebenaran ceritanya dia.”

“Yang paham dia mau bilang ke keluarganya. Keluarganya ada di Purwakarta, rumahnya ada pager warna cokelat, ada tulisan 11, no 11 barangkali ya. Trus dia mau bilang sama keluarganya kalau Mamat itu minta didoakan. Karena barangkali keluarganya amat sedih, dia mesti didoakan,” tutur Furi.

Furi jadi bergerak, kita pun mengikuti, kondisi ulang jadi dingin, berlainan rasanya kala dia bercerita perihal Stefanus. Atau barangkali karena ada problem lain tak sekedar Mamat? (bersambung)

Rahasia Gapura Bumi Jelas serta Abnormal di Laut Selatan, Persembahan buat Istri raja Kidul

Rahasia Gapura Bumi Jelas serta Abnormal di Laut Selatan, Persembahan buat Istri raja Kidul

Rahasia Gapura Bumi Jelas serta Abnormal di Laut Selatan, Persembahan buat Istri raja Kidul

Narasi hal Kanjeng Istri raja Kidul tidak dapat bebas dari tepi laut Parangkusumo yang lokasinya 30 km dari Yogyakarta.

Kabarnya, tepi laut itu dikira bertuah sebab diyakini bagaikan gapura mengarah Kerajaan Laut Selatan.

Siti Jumanah, pembimbing darmawisata serta aku dalem Istana Yogyakarta Hadiningrat, dalam rekreasi virtual dari HIS Travel berkata, tepi laut itu dikira bagaikan gapura yang mengaitkan bumi jelas serta bumi abnormal laut tepi laut Selatan.

Tepi laut Parangkusumo dahulu ialah tempat bersemedi Danang Sutawijaya nama lain Panembahan Senopati yang diucap berjumpa dengan Istri raja Kidul di situ.

Dalam Babad Tanah Jawi, diucap Danang bersemedi sebab mau jadi Raja Mataram, setelah itu Istri raja Kidul berikrar menolong meluluskan ambisinya serta menolong melindungi ketentraman orang Mataram sampai turun temurun.

Panembahan Senopati dibawa Kanjeng Istri raja Kidul ke kastel istana laut Selatan di dasar samudera, kemudian terjalinlah cinta serta itu ialah dini cerita perkawinan kebatinan antara Kanjeng Istri raja Kidul serta Danang Sutawijaya,” nyata Siti, Sabtu( 15 atau 8 atau 2020), dikutip Antara.
Taruhan Bola
Bagaikan imbalannya, Danang Sutawijaya teratur membagikan persembahan di Tepi laut Selatan yang sedang teratur dicoba melalui ritual seremoni labuhan. Ritual ini ialah permohonan melenyapkan watak kurang baik dengan melarung beberapa barang ke Laut Tepi laut Selatan.

” Ini konkretisasi filosofi melindungi keserasian, keserasian, serta penyeimbang antara orang serta alam,” nyata Siti.

Tepi laut Parangkusumo sedang dikira keramat sampai dikala ini, buktinya sedang banyak orang yang tiba buat berharap ataupun bersemedi di situ.

Bagi Aryono dari Historia. id, kerutinan ini berasal dari sikap warga yang menjiplak gerak- gerik atasan mereka.

” Warga amati apa yang dicoba raja pada Kanjeng Istri raja Kidul, mereka mengikutinya. Jika raja melaksanakan suatu ritual, warga pula mengikutinya.”

Hal perkawinan kebatinan antara Istri raja Kidul serta Panembahan Senopati, Aryo berkata Babad- kumpulan dokumen bahasa Jawa- tidak seluruhnya bermuatan asal usul cermat, tetapi dihiasi pula oleh bermacam dongeng yang tujuannya buat mengkultuskan raja.

Aryo mengatakan, ahli sastra Pramoedya Ananta Toer beranggapan cerita Istri raja Kidul cuma dongeng yang dilahirkan buat menutupi informasi kegagalan Baginda Agung yang kandas melanda Batavia, pula kandas memahami tepi laut utara Jawa.” Hingga, terbuat dongeng kalau ia sedang kokoh di pantai selatan,” tutur ia.

Rahasia Laut Selatan

Laut Selatan diselimuti banyak rahasia sebab ganasnya laut memunculkan bermacam musibah di situ. Tetapi, dongeng kalau kejadian di laut berkaitan dengan Istri raja Kidul nyatanya dapat dipaparkan dengan cara objektif.

Aryo mengatakan, bersumber pada sebagian amatan, banyak korban berguguran di situ sebab arusnya memanglah cepat.

” Jika membawa botol kosong, lemparkan ke salah satu ujung laut, bila botol terapung serta kembali ke tepi laut, arus lautnya minimun. Jika botol lalu terbawa ke tengah laut, posisi itu memiliki arus laut besar.”

Sedemikian itu pula mengenai kekangan mengenakan pakaian hijau di tepi laut selatan yang kabarnya diakibatkan corak itu sama dengan Istri raja Kidul.

Mengambil Pram, Aryo berkata, corak hijau sama dengan sebentuk VOC.” Kekangan itu terbuat supaya banyak orang melalaikan ketergantungan antara corak hijau dengan sebentuk VOC,” tuturnya.

Ia pula mangulas mengenai gambar Kanjeng Istri raja Kidul yang terbuat oleh ahli Basoeki Abdullah.

Basoeki, tutur Aryo, melukis Istri raja Kidul bersumber pada asumsi banyak orang jika wujud itu mempunyai bentuk wajah yang menawan. Ia memilah seseorang istri dokter bernama Nyonya Harahap bagaikan bentuk buat gambar Istri raja Kidul.

” Sehabis gambar jadi, tidak lama setelah itu Nyonya Harahap tewas sebab sakit kanker. Awal, Basoeki kira itu bertepatan,” tuturnya.

Ia mengambil novel memoar Basoeki Abdullah dari Agus Ikhlas hati, ahli menggambar itu membuat sebagian gambar Istri raja Kidul lain dengan bentuk yang berlainan.” Cocok gambar jadi, modelnya sakit ataupun tewas.”

Di Terminal Tirtonadi Solo Misteri Kuntilanak Ngesot Hingga Sosok Rambut Gimbal

Di Terminal Tirtonadi Solo Misteri Kuntilanak Ngesot Hingga Sosok Rambut Gimbal  – Terminal terbesar di Kota Solo, Jawa Tengah, Tirtonadi menyimpan kisah misteri yang melegenda hingga sekarang.

Tempat pemberhentian bus ini jadi beroperasi terhadap 1975 dan dibangun di atas tanah taman yang indah bernama Tirtonadi. Selama 45 th. melayani penumpang,Taruhan Bola Terminal Tirtonadi terdapat kisah misteri yang melegenda.

Bermula dari kemunculan kuntilanak ngesot, sosok laki-laki berbadan hancur yang sering muncul di bawah kolong bus, hingga sosok menyeramkan rambut gimbal tergantung dulu jadi misteri Terminal Tirtonadi Solo.

Pada awal-awal beroperasi, salah satu makhluk halus yang menggemparkan dan jadi buah bibir penduduk adalah kemunculan kuntilanak ngesot. Apalagi situasi terminal kala itu gelap terhadap malam hari dan tidak sebaik kala ini.

Dahulu beberapa sudut bangunan memang gelap disertai lumut dan beberapa terdapat postingan vandal. Munculnya kuntilanak ngesot merupakan perihal yang menggemparkan terhadap era itu. Konon, terjadi sendiri di lorong terminal terhadap malam hari merupakan tindakan yang bodoh karena banyaknya kriminalitas dan teror kunti ngesot terhadap kala itu,” ujar dia.

Tak hanya kuntilanak ngesot, ada penampakan yang legendaris, berbentuk sosok laki-laki bersama badan hancur tanpa kaki dan bola matanya hampir keluar. Sosok selanjutnya sering mengejutkan penumpang maupun pedagang karena muncul dari kolong bus.

mengungkap ada beberapa saksi yang menyebut ada pula penampakan pocong di bagian tempat parkir belakang dan toilet.

Kala itu, dua lokasi selanjutnya memang minim penerangan agar sering muncul penampakan makhluk halus yang menghantui pengunjung Terminal Tirtonadi Solo.

Sosok Rambut Gimbal

Kisah misteri Terminal Tirtonadi Solo tak berhenti di situ. Meski sudah berbenah jadi terminal modern, ada penumpang yang mengaku memandang penampakan orang gimbal yang tergantung lehernya di sudut-sudut Terminal Tirtonadi Solo.

“Beberapa penumpang tetap memandang penampakan orang gimbal yang tergantung lehernya di beberapa sudut terminal yang kurang penerangannya dan ada pula sosok kepala perempuan bersama wajah pucat dan taring kuning muncul dari selokan barat terminal ini untuk mengagetkan barang siapa yang lewat,” ungkap dia.

Ada salah satu netizen mengaku di bagian selatan tempat terminal, yakni bekas kandang ayam muncul menyeramkan.

“Kidul terminal seng bagian cedak kantor enek bekas kandang ternak pitik min, jare pegawe kono si yo rodo wingit [selata terminal di bagian dekat kantor ada bekas kandang ternak ayam. Kata pegawai di sana ya agak menyeramkan],” sadar salah satu netizen.

Cerita Mistis Onggo-Inggi Penunggu Bengawan Solo

Cerita Mistis Onggo-Inggi Penunggu Bengawan Solo  – Masyarakat Solo di Jawa Tengah telah familier dengan sosok penunggu sungai Bengawan Solo satu ini.

Warga bantaran kali Bengawan Solo menyebut sosok penunggu ini dengan panggilan Onggo-Inggi.

Sosok satu ini berwujud kepala tanpa badan yang mempuyai rambut panjang. Di mana rambutnya berikut kerap digunakan Onggo-Inggi untuk melilit mangsanya yang dapat disita jiwanya.

Selain itu, Onggo-Inggi terhitung dideskripsikan dengan kulit pucat bahkan nampak melepuh dengan gigi taring seperti biji timun.

Onggo-Inggi ini kerap berharap tumbal berwujud anak perawan dan perjaka.

“Onggo-inggi diakui momok yang kerap meneror anak perawan dan perjaka yang tinggal berasal dari di dalam arus sungai. Lantas apakah perihal berikut benar adanya? Beberapa cerita leluhur menyatakan bahwa sosok Onggi-inggi merupakan dayang yang tinggal di di dalam pusaran kali Bengawan Solo,” kata dia.

Dari cerita berikut terhitung diungkap bahwa penunggu Bengawan Solo ini adalah jin penjaga Keraton Solo yang sebenarnya ditugaskan untuk menjaga kedaulatan keraton.
Rakus dan Takut Kain Kafan

Karena cii-ciri penunggu Bengawan Solo, Taruhan Bola Onggo-Inggi ini rakus dan tetap minta sesajen yang berlebihan, keliru satunya nyawa manusia, dia pun dibuang.

“Konon, sebelum akan musnahnya sang lelehur Onggo-inggi, makhluk ini telah beranak pinak dan menguasai Bengawan Solo,”

Menurut beberapa orang yang percaya, Onggo-Inggi kerap menyembunyikan manusia, tapi mau mengembalikannya jikalau ada penggantinya.

Sama seperti makhluk halus lainnya, ternyata Onggo-Inggi terhitung membawa kecemasan terhadap doa-doa dan kain kafan. “Konon, makhluk ini amat kuatir dengan bacaan doa dan kain kafan. Percaya tidak percaya, bagaimana Anda menyikapinya?” tanya account Instagram yang kerap mengunggah cerita misteri di daerah Solo dan sekitarnya ini.

Hanya Serangga Kecil

Meski begitu, banyak pula yang beranggapan sosok penunggu Bengawan Solo, Onggo-Inggi ini cuma rekayasa belaka. Hal berikut sengaja dibuat agar anak-anak tidak bermain di bantaran kali.

“Menurut mereka, Onggo-inggi hanyalah serangga kecil yang mampu terjadi diatas air,” urai dia.

Mitos Kerajaan Gaib di Waduk Kedung Ombo Sragen

Mitos Kerajaan Gaib di Waduk Kedung Ombo Sragen – Kerajaan gaib Waduk Kedung Ombo bukanlah perihal yang asing kembali bagi masyarakat yang tinggal di lebih kurang waduk.

Waduk yang berlokasi di tiga kabupaten di Jawa Tengah, yakni Sragen, Boyolali dan Grobogan ini konon katanya sering dijadikan area pembuangan makhluk halus.

beraneka macam makhluk halus sering bergentayangan di lokasi waduk seluas 6.576 hektar ini.

“Waduk yang luas ini ternyata jadi keliru satu area favorit untuk menyingkirkan makhluk halus. Ada yang bersifat jin pesugihan, jin gentayangan meresahkan warga, hingga khodam dari benda pusaka,”

Kerajaan Gaib Dipimpin Ratu

Konon ceritanya, waduk ini dijaga oleh makhluk layaknya buto bersama wajah merah yang mengenakan pakaian kerajaan. Sayangnya, makhluk ini sering menghendaki tumbal bersama cara menyeret korban ke dasar waduk yang disebut-sebut terkandung sebuah kerajaan gaib.

“Namun, setelah perjanjian bersama masyarakat dan beberapa paranormal,Taruhan Bola makhluk tersebut bersedia untuk tidak menyita tumbal dan diganti oleh sajen di malam-malam tertentu,” tambah dia.

Kerajaan gaib di dasar Waduk Kedung Ombo inilah yang menurut cerita yang beredar dipimpin oleh ratu. Dia dikenal sebagai sosok yang memelihara adab dan sopan santun.
Hati-hati yang Mesum

, pengunjung yang membawa tekad mesum justru dipermudah oleh penunggu waduk. “Tempat yang tiba-tiba sepi dan kondisi yang tiba-tiba menggoda jadi sambutan hangat dari lelembut kepada oknum-oknum [yang inginkan mesum] tersebut,” ungkap dia.

Meskipun dipermudah, ternyata makhluk halus Waduk Kedung Ombo tersebut justru dapat mengikuti oknum mesum hingga tiba di rumahnya.

Hal tersebut yang dapat membawa dampak kondisi tempat tinggal dan lingkungan lebih kurang jadi panas dan tak nyaman. Berbagai macam perihal di luar nalar pun terjadi.

, rezeki pun dapat berpengaruh dengan sebutan lain terhambat karena kehadiran makhluk halus tersebut.

“Jin yang kehilangan tempat tinggal ini dapat mengikuti sang korban hingga ke rumahnya. Sehingga kondisi lebih kurang jadi panas dan tidak nyaman, asumsi jadi kacau, dan rejeki tiba-tiba terhambat. Maka dari itu, beberapa masalah oknum mesum di area ini dapat mengalami kehidupan yang tidak cemerlang atau tambah justru mengarah ke depresi,” tutup dia.