Cerita Misteri Kematian Geisha Pribumi Ayame

Cerita Misteri Kematian Geisha Pribumi Ayame

Sudah masuk malam Jumat nih! Katanya, malam Jum’at adalah malam yang sama dengan situasi horor yah?

Jika kamu setuju, barangkali dengan membaca kisah horor atau misteri, bakal menaikkan kesan malam Jum’at menjadi merasa menyeramkan.

Dikutip dari instagram @kisahtanahjawa yang sebetulnya kerap mengkaji kisah-kisah atau cerpen berkenaan misteri di Indonesia, terutama Pulau Jawa.

Baca Juga: Tes Kepribadian: Pilihanmu Atas dua Gelas Ini Akan Menunjukan Sifatmu

Berikut kisah horor seorang Geisha pribumi bernama Ayame, yang senang laksanakan bunuh diri sebab rasa cintanya kepada sang kekasih.

Ayame yang miliki kecerdasan diatas umumnya perempuan pribumi terhadap era itu, dengan cepat bisa menguasai bahasa Jepang dan mempelajari alat musik shamisen.

Sebelum pada akhirnya menjadi Geisha seutuhnya, barangkali Ayame adalah hanya satu perempuan pribumi yang sedikit untung dibandingkan seluruh perempuan yang ada di Gua Jepang.

Komandan Takeda lah yang berhasil menyelamatkan Ayame supaya dirinya tidak menjadi bagian dari perempuan Jugun Ianfu.

Baca Juga: Dua Lipa Jadi Global Brand Ambassador Puma

Meski telah diselamatkan oleh Komandan Takeda, bukan bermakna Ayame merasa baik-baik saja. Ayame selalu tidak kerasan memandang pemandangan menyedihkan yang berjalan kepada pekerja romusha dan perempuan jugun ianfu.

Kegelisahan itu bisa merasa dari musik shamisen yang dimainkan Ayame. Alunan musiknya terdengar sangat menyayat hati, layaknya cerita berkenaan kematian, yang tambah lama kian nyata dan mendekat.

Pada bagian tertentu, sementara Ayame sedang memainkan musiknya, ada bagian yang menyebabkan para prajurit Jepang seolah miliki aura yang mempesona.

Mereka berkhayal diri menjadi kuda jantan tangguh berenergi yang sangat kuat. Ayame sebetulnya sangat paham kapan dia harus memainkan musiknya.

Ayame paham kapan sementara menghibur prajurit Jepang, dan kapan sementara untuk menghibur dirinya sendiri.

Pada awalnya, menjadi Geisha sebetulnya bukan menjadi kebanggaan bagi Ayame. Terlebih sebab Ayame merasa telah tidak miliki pilihan lain, tidak ada yang bisa menyelamatkan dirinya terhadap sementara itu, kalau menjadi seorang Geisha. Setidaknya untuk sementara, Ayame bisa bertahan hidup dari siksaan prajurit Jepang.

Suara itu mengalun merdu sekali, melodi itu bagaikan hanya satu hiburan bagi pekerja romusha dan jugun ianfu di Gua Jepang.

Alunan indah itu berasal dari alat musik tradisional Jepang bernama shamisen, yang dimainkan oleh seorang Geisha pribumi bernama Ayame.

Bukan aslinya, nama Ayame diberikan oleh Komandan Takeda, yang merasa paras perempuan pribumi itu serupa dengan wajah orang Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *