Misteri Dibalik Keindahan Telaga Sarangan

Misteri Dibalik Keindahan Telaga Sarangan

Misteri Dibalik Keindahan Telaga Sarangan

 

Telaga Sarangan merupakan danau alami yang berada di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur merupakan keliru satu destinasi wisata.

Telaga bersama luas sekitar 30 hektar dan ditengahnya terdapat semacam pulau kecil ini alamnya terlalu elok gara-gara diliputi kondisi teduh, dingin, dan fresh bersama banyak pepohonan rindang.

Dibalik itu semua, telaga ini menyimpan sebagian misteri yang menakutkan dipercayai keberadaanya oleh masyarakat sekitar bahwa telaga ini dihuni oleh sejumlah makhluk halus.

Misteri pertama mengisahkan berkenaan terdapatnya dua ekor naga raksasa yang menghuni tempat itu. Konon, telaga ini bahkan sebetulnya dibikin oleh ke-2 naga.
Pasang Bola
Dalam cerita rakyat Magetan, dahulu saat hiduplah sepasang suami istri petani bernama Kyai Jalilung dan Nyai Jailung. Suatu saat, Kyai Jalilung merasa lapar dan tunggu kiriman makanan dari suaminta namun istrinya tak kunjung datang.

Ia mengambil keputusan mencari makanan lain. Ia lantas menemukan sebutir telur raksasa. Telur itu lantas dibakar dan segera disantap. Karena saking besarnya, ia cuma memakan separoh dan sisanya dibiarkan tergeletak.

Istrinya mampir dan lantas memakan sisa telur tersebut. Keanehan pun terjadi. Beberapa lama setelah makan telur, ke-2 orang itu kepanasan agar menceburkan diri air pancuran terdekat. Mukjizat terjadi, sepasang suami istri itu lantas beralih jadi naga raksasa.

Karena badannya jadi membesar, tempat pancuran air itu ikut beralih jadi luas dan di dalam di mana jadi tempat bersarangnya ke-2 naga. Sejak itu, tempat itu dinamakan Telaga Sarangan.

Misteri ke-2 sanggup dibuktikan bersama terdapatnya ritual yang kental bersama unsur supranatural yang teratur diselenggarakan di Telaga Sarangan. Ritual itu dimaksudkan untuk menghargai Kyai Pasir dan Nyi Pasir yang dipercaya udah moksa jadi dua naga besar penunggu telaga tersebut.

Ritual diselenggarakan pada hari Jumat kliwon, yang jatuh pada bulan Ruwah menurut penanggalan Jawa. Ritual ini ditandai bersama menebarkan sesaji di di dalam telaga. Warga dan para sesepuh beramai-ramai mengikuti acara tersebut.

Dalam keyakinan warga setempat, ritual dijalankan untuk tolak bala atau hindari dari marabahaya dan sekaligus untuk menghargai roh-roh leluhur. Dengan melarung sebagian harta (hasil bumi dan ternak) di telaga diinginkan masyarakat mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Misteri ketiga adalah terdapatnya keyakinan bahwa di telaga itu terdapat lubang besar. Anehnya, lubang tidak selalu sanggup dilihat oleh orang. Tidak diketahui pula apakah lubang itu tersedia hubungannya bersama dua naga raksasa yang udah disebutkan di awal.

Misteri keempat adalah fenomena kabut yang kadang turun menyelimuti Telaga Sarangan. Di satu sisi, keberadaan kabut menyebabkan indah panorama namun di segi lain, datangnya kabut dipercayai sebagai berarti bahwa penunggu telaga tengah nampak dari sarangnya.

Misteri kelima adalah larangan bagi sepasang kekasih yang memadu asmara di tengah telaga. Konon, apabila perihal itu dilakukan, kapabilitas gaib akan menyebabkan mereka celaka.

Kutukan sanggup bermacam rupa. Bisa menyebabkan hubungannya kandas sebelum pernikahan, tersedia juga malapetaka berupa lain layaknya percekcokan sampai perceraian setelah menikah. Mitos ini udah terkenal jadi buah bibir di Magetan.

Misteri keenam adalah tingginya angka korban meninggal di sekitar Telaga Sarangan. Korban meninggal bukan cuma gara-gara tenggelam, tak jarang kecelakaan maut juga sering berjalan di tempat sekitar Telaga Sarangan.

Pada Kamis (13/6/2019) sore, tersedia perihal menghebohkan warga akibat seorang wisatawan yang tengah piknik keluarga ditemukan tewas akibat tenggelam di telaga itu.

Seperti udah di informasikan sejumlah sarana massa, aparat kepolisian menjelaskan bahwa korban berinisial DS (41), warga Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun.

Sebelum jenazah korban ditemukan, warga sempat mengusahakan lakukan pencarian dan tidak menemukaannya. Pencarian lantas dibantu petugas gabungan dari BPBD Magetan dan Polres Magetan dan kelanjutannya sanggup diketemukan daam kondisi udah meninggal.

Berdasarkan informasi di lapangan dan info saksi, peristiwa selanjutnya bermula saat korban mampir ke Telaga Sarangan untuk berwisata bersama istri dan anaknya.

Korban berniat menyita air telaga untuk dimasukkan ke di dalam botol bekas air mineral. Rencananya air itu akan dibawa pulang sebagai tanda cinta kepada istrinya gara-gara air telaga menurut mitosnya sanggup menyebabkan seseorang awet muda.

Mungkin gara-gara kurang hati-hati, saat menyita air selanjutnya korban terpeleset dan jatuh ke telaga. Korban sempat berteriak minta tolong gara-gara tidak sanggup berenang, Namun, tidak tersedia orang yang berani menolongnya.

Sayang, ketika petugas datang, DS udah terlanjur tewas tenggelam. Jasad korban kemudiaan dibawa ke Polsek Plaosan guna dijalankan pemeriksaan. Dari hasil identifikasi jenazah tidak ditemukan terdapatnya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

Mistis di Balik Gedung Berwana Peach Karanganyar

Mistis di Balik Gedung Berwana Peach Karanganyar

Mistis di Balik Gedung Berwana Peach Karanganyar

Ada cerita mistis di balik gedung berwana peach yang terletak di Jalan Lawu Timur Terminal Karangpandan, Karanganyar. Di gedung inilah, pemimpin kawedanan (wedana) Karangpandan dulunya berkantor.

Lalu layaknya apa cerita mistis di balik gedung bekas kantor Kawadenan ini?

Wedana merupakan pembantu bupati yang memimpin lebih dari satu camat. Karanganyar terhadap era penjajahan Belanda dibagi menjadi tiga wilayah kawedanan yakni Kawedanan Karanganyar, Kawedanan Karangpandan, dan Kawedanan Jumapolo.
Taruhan Bola
Setelah proklamasi, Karanganyar bertambah satu wilayah kawedanan yakni Kawedanan Wonoharjo. Salah satu mantan pegawai Kawedanan Karangpandan, Soekarno (71) menjelaskan, Kawedanan Karangpandan membawahi enam kecamatan yaitu, Kecamatan Karangpandan, Kecamatan Matesih, Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Jenawi, dan Kecamatan Kerjo.

“Saya bekerja di kantor Kawedanan Karangpandan sejak 1970. Saya tidak mengerti sama histori bangunan tersebut. Mungkin dulu rumah milik Mangkunegaran. Kemudian, oleh pemerintah dijadikan sebagai rumah dinas dan kantor. Tidak mesti memicu gedung baru untuk kantor Wedana,” katanya kepada Solopos selagi ditemui di rumahnya.

Pada 1970, Wedana Karangpandan dibantu enam pegawai yakni kepala kantor, bidang pemerintahan, juru bayar, bagian surat, pelayanan, dan penjaga malam. Selama 30 th. Karno bertugas di kantor tersebut, sudah ada 10 kali pergantian wedana dan menambahkan pegawai.

Di kompleks tersebut, terkandung satu rumah dinas. Di timur rumah dinas berdiri bangunan musala baru. Berjalan ke sisi barat rumah, terdengar aliran air irigasi yang tertutup beton.

Di sisi barat rumah dinas, terkandung pendapa dan kantor. Sisi paling barat, ada satu kolam. Rumah dan kantor tertutup rapat agar Solopos tidak mampu masuk.

“Dulu bangunan hanya rumah dinas, garasi, pendapa, kantor, dan kolam. Musala dibangun dinas pariwisata. Wedana dan keluarga tinggal di rumah tersebut. Kolam tidak layaknya sekarang, saat ini kolamnya kecil. Pagar hanya terbuat berasal dari bambu dan banyak pohon besar,” kata dia.

Dia menjelaskan, rumah dinas wedana itu terdiri atas enam ruangan, yakni satu kantor wedana, tiga kamar tidur, satu ruangan perkakas, dan satu kamar kosong. Dia mengatakan kamar kosong berikut tidak dipakai sebab konon miliki cerita mistis.

“Orang tidak boleh tidur di ruangan itu. Kalau ada yang berani tidur di kamar tersebut, secara tidak mengerti dia bergeser tempat,” kata dia.

Karno mengatakan sejak 1975 kantor camat dipindahkan ke wilayah masing-masing. Kantor pembantu bupati tetap beroperasi sampai dilikuidasi terhadap 2000. Seluruh pegawai dipindahkan ke kantor dinas.

Dia mengatakan terhadap 2002 kantor kawedanan disewakan kepada Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah selama 10 tahun. Kini, kantor kawadenan tidak dipakai. Pedagang kira-kira terminal memanfaatkan beranda bangunan untuk menaruh meja dan kursi.

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar sebagai pengelola bangunan memiliki rencana menjadikan bangunan itu sebagai rumah kreatif Karanganyar.

Misteri Jembatan Panus Depok

Misteri Jembatan Panus Depok

Misteri Jembatan Panus Depok

ANGIN malam yang dingin nampaknya telah tidak ulang dapat mengalihkan perhatian saya berasal dari Furi Harun, perempuan indigo yang tengah bertemu Stefanus si hantu pembuat jembatan. Stefanus merupakan pria Belanda yang diekspresikan punyai tinggi badan 189 cm dengan perkiraan umur 43 tahun.

Sambil berbincang dengan kami, matanya tetap lihat tajam ke arah sebuah pohon tinggi di sisi jembatan, area Stefanus biasa berdiam. Menurut Furi, Stefanus mampir dengan dengan anjing kesayangnya. Furi pun tidak sendiri, di lengan kirinya boneka chika, yang merupakan boneka kuman thong, setia menemani dia.
Bandar Taruhan
“Terima kasih,” kata Furi menyita nafas, lalu melanjutkan “Dia mengucapkan terima kasih karena pada akhirnya ada yang mampir untuk memberikan cerita yang real perihal dia. Enggak membawa dampak keributan, supaya kekuatan negatif lain menyingkir,” ucap Furi tanpa melepas tatapannya.

Furi ulang menjelaskan, anjing putih kesayangan Stefanus itu menjemput ajal 6 jam sehabis Stefanus ditembak, tapi penyebab kematiannya berlainan dengan Stefanus. Furi pun diam sejenak. “Namanya Heli anjing putihnya,” paham Furi.

Tapi, yang membawa dampak Stefanus sendiri bingung adalah kenapa istrinya turut bunuh diri dua hari sehabis dia meninggal. Meski begitu, dia tidak menyalahkan siapa pun, menurut Furi, Stefanus percaya bahwa yang menimpa mereka adalah nasib yang mesti mereka jalani. Saat ini, mereka pun tetap betah berada di jembatan tersebut.

Tapi, lanjut Furi, Stefanus mengungkapkan kekesalannya terhadap orang-orang yang kerap melenyapkan kelapa, karena itu pada akhirnya jadi kekuatan yang negatif. Saya tak ingat sejak kapan menghambat nafas, saya amat fokus mendengar cerita Furi, yang tak dulu melepas pandangannya berasal dari arah pohon.

Tapi kata-kata sesudah itu ulang memaksa saya menghambat nafas. Furi bercerita bahwa ada moment mutilasi tujuh tahun yang lalu ada yang dimutilasi dan dibuang di sini. Saya pun berupaya mengali-gali ingatan saya terhadap moment 7 tahun lalu.

Ya, di 2012 sebenarnya sempat ada dua orang berbaju hitam melenyapkan karung goni, berasal dari karung selanjutnya menetes bercak darah yang tersisa di jalanan dan pagar jembatan. Memang terhadap pada akhirnya polisi tidak dulu menemukan isikan karung selanjutnya karena hilang dibawa derasnya arus. Tapi, penelitian uji laboratorium membuktikan bahwa bercak darah selanjutnya adalah darah manusia.

Rasanya inginkan saya nimbrung omongan selanjutnya dan menanyakan soal korban mutilasi tersebut. Tapi tenggorokan saya jadi tercekat, dan membawa dampak saya hanya menggumam sendiri saja. Padahal, menurut Furi banyak “warga” di situ tidak dulu menggangu sekitarnya, mereka hanya tinggal di sana.

Lantas, siapa warga itu? Sekali lagi.. tanpa mesti saya bertanya, Furi nampaknya dapat membaca asumsi saya. Warga di sana adalah mereka yang meninggal saat membangun jembatan tersebut. Menurut Stefanus, jembatan itu sebenarnya dibikin untuk masyarakat Indonesia, hanya saja peralatan yang belum lumayan membawa dampak potensi kecelakaan kerja meningkat.

“Itu membawa dampak banyak sekali rakyat yang meninggal karena memikul barang amat berat. Seperti ngambil batu, supaya leher hampir putus,” ucap Furi seperti mengulangi pesan Stefanus.

Bagimana tidak, jembatan selanjutnya ternyata hanya dibikin berasal dari media putih telur dan tanah. Menitip uang berkutang, menitip kata bertambah, barangkali inilah yang berjalan terhadap kisah jembatan Panus. Rumor yang beredar tambah pembangunan Jembatan Panus mesti menumbalkan kepala.

Dengan tenang Furi pun terus mengisahkan alasan stefanus tetap merawat area ini, tidak lain karena dia amat berterima kasih terhadap rakyat zaman dulu yang telah menolong membangun jembatan ini. Sayangnya, rumor yang menempel di Jembatan Panus ini seakan negatif karena banyak kejadian bunuh diri dan pembunuhan yang pada akhirnya mengotori jembatan.

Furi tiba-tiba terdiam lumayan lama, dia keluar tengah mencermati dengan seksama apa pesan Stefanus selanjutnya.

“Dia inginkan dikunjungi hari Kamis pukul 11 siang, karena itu adalah jam dia ditembak. Atau kalau mau hari Sabtu jam 11 siang karena itu saat istrinya lompat ke basic jembatan. dia amat welcome,” ungkap Furi memberikan pesan Stefanus.

Cerita Furi sebenarnya lumayan membawa dampak kita tenang, karena percaya dia bukan hantu saja. Hanya saja, tiba-tiba dia menyebut. “Dia senang sama keliru seorang laki-laki di sini, karena sebenarnya punyai obyek inginkan menguak fakta, bukan hanya karena pekerjaan,” ucapan Furi itu pun membawa dampak saya diam, takut, senang, risau bercampur jadi satu.

“Yang mana, di sini banyak laki-lakinya,” lanjut Furi lihat beberapa kru. Saya pun turut lihat teman-teman lainnya dengan perasaan bertanya-tanya, barangkali mereka pun sama bingungnya dengan kami.

Furi yang lihat pun sedikit tertawa. Kata-kata dia sesudah itu sebenarnya sepertinya di luar skenario awal kami. “Ada yang mau dijadiin mediator?,” kata Furi sambil tersenyum.

Kami yang tidak siap pada akhirnya diam saja, tidak ada satu pun yang mengajukan diri. Saya pun tidak terfikir tubuh saya dimasuki oleh roh lain. Akhirnya Furi pun menggagalkan acara mediasi tersebut. “Just let it flow ya,” tutur dia.

Furi pun memberi pengertian ke kami, biarpun tengah gerimis tapi ini adalah best moment spirit inginkan memberikan sesuatu, dan inilah yang dia maknai berasal dari ghost hunting. “Apa sih arti ghost hunting? Apa mesti buat keribuatan, gaduh, heboh lalu kita pergi? Kalau menurut saya sih enggak,” katanya.

Di tengah penjelasannya itu, tiba-tiba Furi berhenti lantaran ada keliru satu kru Okezone yang mual. Dia pun mencegah dari ke ujung jembatan untuk hindari kekuatan negatif. Furi pun melanjutkan penjelasannya yang sempat terpotong. “Jadi sehabis bertemu, ada sebuah pesan yang mesti dirilis, supaya jadi berita yang benar,” katanya.

Perempuan ini melanjutkan, sebenarnya saat mampir ke Indonesia Belanda banyak sekali menyakiti rakyat Indonesia. Tetapi dia berupaya saat membangun jembatan ini, dia membangunnya dengan hati. “Meskipun dalam jangka saat yang lama…” tiba-tiba Furi menengok ke bawah seakan kakinya digigit serangga.

Saya pun lihat ke arah kaki Furi, sebenarnya dia hanya mengenakan celana cuman lutut. Mungkin digigit nyamuk pikir saya, sayangnya dugaan saya meleset 100 persen. “Kok ada kepala ya, oke,” kata Furi sambil lihat ke bawah seakan menyuruh kepala itu pergi.

Saya yang tadinya telah jadi mengantuk, karena jadi jadi nyaman tiba-tiba segara kala Furi berkata seperti itu. Jantung saya pun berdesir, udara dingin ulang saya rasakan semakin menusuk. Saya lihat Furi yang memblakangi kamera, seakan mencari ke mana kepala itu hilang.

“Mungkin tadi ada yang nanya ya, mbak Furi ngelihat kepala enggak, trus saya bilang enggak, trus dia beneran muncul. Ada yang lihat ga sih?,” tanyanya ke kami. Saya hanya menggeleng pelan sambil mencoba mencerna apa yang telah terjadi. “Gw jadi kayak kekhawatiran sendiri jadinya,” lanjut Furi.

Selang beberapa detik, Furi ulang memblakangi kamera, dia pun seakan menegur kepala yang inginkan turut tampil itu. “Oke anda ada, tapi nanti ya ceritanya,” katanya berbincang dengan kepala tersebut.

Setelah menyita nafas, Furi pun ulang melanjutkan kisah pembangunan jembatan tersebut. “Jadi sehabis membangun ternyata dia tidak dipulangkan ke Belanda, tapi tambah ditembak oleh dua tentara Jepang di hari Kamis jam 11 siang,” paham Furi.

“Jadi kalau anda mau ke sini, merasakan kekuatan yang ada di sini, energinya amat besar, amat ramai, tapi kekuatan itu bakal tergantung niat sendiri. Kalau sebenarnya baik, mau dengar cerita dan kita kasih koin, Insya Alllah mereka bakal amat open,” katanya.

Furi diam sejenak, lalu melanjutkan ceritanya. Saya pikir Furi bakal menceritakan kisah sambungan Stefanus, tapi dia tambah mengulas perihal kepala menggelinding barusan. “Kepala itu namanya Mamat. Dia sampai saat ini tetap mencari badannya ada di mana. Tapi saya bilang itu pekerjaan yang amat susah dilakukan, jadi Mamat yang mengganggu kita yang ada di sini, silahkan kalau mau cerita,” kata Furi.

Namun, Furi tampak mengunrungkan niatnya, wajahnya membuktikan rasa tidak nyaman. “Mamat itu agak serem. Jadi saya enggak amat nyaman terhitung ngelihatnya. Ok Mat, anda di belakang saya saja Mat,” kata Furi sambil membawa dampak gestur menyuruh ganti dengan tangannya.

“Dia bilang dia dibunuh, dipotong-potong, karena dia berselingkuh. Dia dibunuh oleh selingkuhan istrinya dan dia dibunuh, beritanya ada di koran, dan mayatnya ditemukan di sini. Kita cek lah nanti kebenaran ceritanya dia.”

“Yang paham dia mau bilang ke keluarganya. Keluarganya ada di Purwakarta, rumahnya ada pager warna cokelat, ada tulisan 11, no 11 barangkali ya. Trus dia mau bilang sama keluarganya kalau Mamat itu minta didoakan. Karena barangkali keluarganya amat sedih, dia mesti didoakan,” tutur Furi.

Furi jadi bergerak, kita pun mengikuti, kondisi ulang jadi dingin, berlainan rasanya kala dia bercerita perihal Stefanus. Atau barangkali karena ada problem lain tak sekedar Mamat? (bersambung)

Rahasia Gapura Bumi Jelas serta Abnormal di Laut Selatan, Persembahan buat Istri raja Kidul

Rahasia Gapura Bumi Jelas serta Abnormal di Laut Selatan, Persembahan buat Istri raja Kidul

Rahasia Gapura Bumi Jelas serta Abnormal di Laut Selatan, Persembahan buat Istri raja Kidul

Narasi hal Kanjeng Istri raja Kidul tidak dapat bebas dari tepi laut Parangkusumo yang lokasinya 30 km dari Yogyakarta.

Kabarnya, tepi laut itu dikira bertuah sebab diyakini bagaikan gapura mengarah Kerajaan Laut Selatan.

Siti Jumanah, pembimbing darmawisata serta aku dalem Istana Yogyakarta Hadiningrat, dalam rekreasi virtual dari HIS Travel berkata, tepi laut itu dikira bagaikan gapura yang mengaitkan bumi jelas serta bumi abnormal laut tepi laut Selatan.

Tepi laut Parangkusumo dahulu ialah tempat bersemedi Danang Sutawijaya nama lain Panembahan Senopati yang diucap berjumpa dengan Istri raja Kidul di situ.

Dalam Babad Tanah Jawi, diucap Danang bersemedi sebab mau jadi Raja Mataram, setelah itu Istri raja Kidul berikrar menolong meluluskan ambisinya serta menolong melindungi ketentraman orang Mataram sampai turun temurun.

Panembahan Senopati dibawa Kanjeng Istri raja Kidul ke kastel istana laut Selatan di dasar samudera, kemudian terjalinlah cinta serta itu ialah dini cerita perkawinan kebatinan antara Kanjeng Istri raja Kidul serta Danang Sutawijaya,” nyata Siti, Sabtu( 15 atau 8 atau 2020), dikutip Antara.
Taruhan Bola
Bagaikan imbalannya, Danang Sutawijaya teratur membagikan persembahan di Tepi laut Selatan yang sedang teratur dicoba melalui ritual seremoni labuhan. Ritual ini ialah permohonan melenyapkan watak kurang baik dengan melarung beberapa barang ke Laut Tepi laut Selatan.

” Ini konkretisasi filosofi melindungi keserasian, keserasian, serta penyeimbang antara orang serta alam,” nyata Siti.

Tepi laut Parangkusumo sedang dikira keramat sampai dikala ini, buktinya sedang banyak orang yang tiba buat berharap ataupun bersemedi di situ.

Bagi Aryono dari Historia. id, kerutinan ini berasal dari sikap warga yang menjiplak gerak- gerik atasan mereka.

” Warga amati apa yang dicoba raja pada Kanjeng Istri raja Kidul, mereka mengikutinya. Jika raja melaksanakan suatu ritual, warga pula mengikutinya.”

Hal perkawinan kebatinan antara Istri raja Kidul serta Panembahan Senopati, Aryo berkata Babad- kumpulan dokumen bahasa Jawa- tidak seluruhnya bermuatan asal usul cermat, tetapi dihiasi pula oleh bermacam dongeng yang tujuannya buat mengkultuskan raja.

Aryo mengatakan, ahli sastra Pramoedya Ananta Toer beranggapan cerita Istri raja Kidul cuma dongeng yang dilahirkan buat menutupi informasi kegagalan Baginda Agung yang kandas melanda Batavia, pula kandas memahami tepi laut utara Jawa.” Hingga, terbuat dongeng kalau ia sedang kokoh di pantai selatan,” tutur ia.

Rahasia Laut Selatan

Laut Selatan diselimuti banyak rahasia sebab ganasnya laut memunculkan bermacam musibah di situ. Tetapi, dongeng kalau kejadian di laut berkaitan dengan Istri raja Kidul nyatanya dapat dipaparkan dengan cara objektif.

Aryo mengatakan, bersumber pada sebagian amatan, banyak korban berguguran di situ sebab arusnya memanglah cepat.

” Jika membawa botol kosong, lemparkan ke salah satu ujung laut, bila botol terapung serta kembali ke tepi laut, arus lautnya minimun. Jika botol lalu terbawa ke tengah laut, posisi itu memiliki arus laut besar.”

Sedemikian itu pula mengenai kekangan mengenakan pakaian hijau di tepi laut selatan yang kabarnya diakibatkan corak itu sama dengan Istri raja Kidul.

Mengambil Pram, Aryo berkata, corak hijau sama dengan sebentuk VOC.” Kekangan itu terbuat supaya banyak orang melalaikan ketergantungan antara corak hijau dengan sebentuk VOC,” tuturnya.

Ia pula mangulas mengenai gambar Kanjeng Istri raja Kidul yang terbuat oleh ahli Basoeki Abdullah.

Basoeki, tutur Aryo, melukis Istri raja Kidul bersumber pada asumsi banyak orang jika wujud itu mempunyai bentuk wajah yang menawan. Ia memilah seseorang istri dokter bernama Nyonya Harahap bagaikan bentuk buat gambar Istri raja Kidul.

” Sehabis gambar jadi, tidak lama setelah itu Nyonya Harahap tewas sebab sakit kanker. Awal, Basoeki kira itu bertepatan,” tuturnya.

Ia mengambil novel memoar Basoeki Abdullah dari Agus Ikhlas hati, ahli menggambar itu membuat sebagian gambar Istri raja Kidul lain dengan bentuk yang berlainan.” Cocok gambar jadi, modelnya sakit ataupun tewas.”