Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno, mendadak ramai diperbincangkan menyusul beredarnya kabar jika proklamator Indonesia ini tetap hidup.

Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno, mendadak ramai diperbincangkan menyusul beredarnya kabar jika proklamator Indonesia ini tetap hidup.

Padahal, Ir. Soekarno diketahui meninggal dunia terhadap tanggal 21 Juni 1970 terhadap usia 69 tahun dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.

Akan tetapi, unggahan account Instagram @makassar_iinfo, menyebabkan heboh penduduk sebab mengungkapkan kesaksian orang-orang yang mengaku berjumpa bersama dengan Soekarno.

Kesaksian pertama datang dari pria bernama Mualif warga desa Sei Mata Mata, Kecamatan Simpang Hilir, Kalimantan Barat.

“Ketemunya di sini. Waktu itu, enggak tengah malam juga, tapi ya malam-malam lah,” ujar Mualif dilansir Suara.com, Selasa (13/10/2020).

Mualif mengaku tidak menyangka bahwa sosok yang sepanjang ini diimpikannya datang menyambangi kediamannya.

“Aku pun enggak nyangka kan. Apa yang aku minta terkabul. Datang ya cuma silaturahmi,” lanjut Mualif.

Kesaksian ke dua datang dari seorang pria di video selanjutnya unggahan @makassar_iinfo.

Pria berikut apalagi bersama dengan tegas mengaku jelas keberadaan Bung Karno sementara ini.

“Sebenarnya Soekarno itu tetap hidup, tapi dirahasiakan. Kalau aku itu sebenarnya tau dia di mana tempatnya. Kalau sebenarnya orang itu mengidamkan menguak, mengidamkan jelas ataupun mengidamkan jelas Soekarno itu, boleh nanti jumpai saya, aku antar ke keluarga dia,” ujar pria tersebut.

Ada yang Sebesar Telapak Tangan, Ini Harga Gigi Hiu Megalodon di Sukabumi

Ada yang Sebesar Telapak Tangan, Ini Harga Gigi Hiu Megalodon di Sukabumi

Warga Kampung Cigulingan, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi mengaku dulu sebagian kali beroleh gigi hiu megalodon. Ukurannya mampu sampai sebesar telapak tangan orang dewasa.

Gigi berasal dari fosil hiu misterius ini pun miliki nilai ekonomi yang lumayan. Banyak kolektor yang sudi merogoh kantong untuk mampu miliki gigi hiu megalodon ini.

Di wilayah milik Ceundi ini banyak pemburu yang berhasil beroleh gigi hiu purba, agar jadi banyak warga yang datang untuk berburu dan menggali.

“Sudah banyak yang beroleh huntu gelap, jika mulus berukuran 14 centimeter ke atas mampu dijual dengan harga sekitar tujuh sampai delapan juta. Ada kolektornya,” terang Ceun, Rabu (21/10/2020).

Namun dikarenakan jadi banyak pemburu, wilayah selanjutnya jadi rusak. Saat ini bebatuan yang digali untk mencar fosil gigi hiu purban berhamburan dipunggung-punggung bukit.

“Warga di sini khawatir longsor dikarenakan sebenarnya banyak termasuk pohon yang ditebang di wilayah ini,” pungkasnya.

Mengutip berasal dari postingan T Bachtiar, bagian Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung yang dirilis th. 2005 silam, fosil gigi hiu purba yang ditemukan di wilayah Desa Cikarang, Kecamatan Cidolog Kabupaten Sukabumi lumayan dikenal masyarakat peneliti dikarenakan miliki ukuran lumayan besar.

Tingginya 9,5 cm., belum termasuk akar giginya yang patah dengan lebar bagian atas 7,5 cm.

Bachtiar termasuk menyebut kawasan Jampangkulon sebenarnya sejak zaman (kala) Oligo-Miosen atau 25 juta th. lantas udah jadi daratan. Namun di dalam evolusinya yang dinamis, dikarenakan ada sesar turun yang memanjang barat-timur, secara evolutif kawasan ini mengalami penurunan yang amat berarti.

Akibatnya, terhadap sementara Pliosen pada 5–1,8 juta th. yang lalu, kawasan Jampangkulon kembali berada di bawah permukaan laut dan binatang koral tumbuh subur dengan beraneka binatang laut lainnya.

“Laut selatan ini pun sampai sementara ini merupakan habitat hiu tropis yang kaya dan merupakan jalan migrasi beraneka jenis paus. Bila fosil gigi ikan hiu banyak terdapat di sini, mampu diduga, di kawasan ini terdapat fosil tulang belakang ikan paus,” tulis Bahtiar.

Mesum di Area Sakral, Cerita Misteri Sejoli di Candi Cetho Berujung Tragis

Mesum di Area Sakral, Cerita Misteri Sejoli di Candi Cetho Berujung Tragis

Dikenal sebagai daerah yang sakral, tersedia banyak cerita yang tersimpan di balik Candi Cetho, yang terletak di Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah. Salah satu yang tetap diingat penduduk hingga sekarang adalah cerita misteri perihal sepasang kekasih yang nekat berbuat mesum hingga berujung tragis.

Dalam unggahannya di Instagram, Minggu (11/10/2020), pengelola akun @misterisolo menceritakan, tersedia sejoli yang nekat membebaskan kemauan seksual di daerah candi.

Meski begitu, keduanya berhasil pulang bersama dengan selamat setelahnya.

Namun cerita tak berakhir di sini. Setibanya di rumah masing-masing, mereka mengalami perihal yang mengerikan.

“Meskipun sanggup pulang bersama dengan selamat namun kedua sejoli itu mengalami perihal yang mengerikan kala berada hingga dirumah. Si laki-laki tiba-tiba pingsan dalam kala yang terlampau lama namun si perempuan meronta layaknya orang kesurupan,” terang pengelola akun Instagram @misterisolo, layaknya dikutip dari SoloPos.com — jaringan Suara.com.

Karena tidak sanggup diselesaikan secara medis, selanjutnya pihak keluarga memanggil paranormal untuk mengerti penyebab sepasang kekasih ini kesurupan dan pingsan.

Berdasarkan cerita misteri unggahan @misterisolo tadi, para paranormal merekomendasikan mereka untuk kembali ke Candi Cetho dan menghendaki maaf.

Pihak lelaki pun mau, namun tidak sama bersama dengan pihak perempuan, dia enggan kembali ke Candi Cetho gara-gara menganggapnya takhayul belaka.

“Namun hanya keluarga dari si lelaki yang bersedia untuk kembali ke candi ini untuk minta maaf namun keluarga sang perempuan tidak idamkan kembali. Beberapa saksi menjelaskan alasan ketidakinginan keluarga sang perempuan untuk kembali ke candi Cetho dalam beberapa versi,” ungkap @misterisolo.

“Ada yang menjelaskan perihal kurang percaya keluarga menganggap tahayul, komitmen keluarga yang terlampau agamis, hingga rasa malu pada apa yang ditunaikan oleh sang anak di kala itu,” tambahnya.

Cerita misteri pasangan kekasih yang mesum di Candi Cetho ini pun berakhir miris, lebih-lebih bagi pihak perempuan.

Si perempuan selanjutnya meninggal dunia setelah mengalami hal-hal yang mengerikan.

Sementara itu, si lelaki berhasil pulih dan menjalani kehidupan normal kembali di Jawa Timur.

Candi Cetho diketahui merupakan pintu masuk untuk para pendaki yang idamkan menuju puncak Gunung Lawu. Banyak yang menyebut rute ini sarat bakal perihal mistis gara-gara kesakralannya.

Tak heran, tersebar banyak cerita misteri yang dialami pendaki maupun wisatawan Candi Cetho. Sejoli mesum tadi adalah tidak benar satunya.

Ikut Tantangan Masuk Gedung Horor, Nikita Mirzani Dibuat Nangis Kesakitan

Ikut Tantangan Masuk Gedung Horor, Nikita Mirzani Dibuat Nangis Kesakitan

Nikita Mirzani sempat mengalami kaku hingga selanjutnya menangis kesakitan sementara melakoni uji nyali di sebuah gedung kosong.
Dalam urutan anniversary channel YouTube Diary Misteri Sara Wijayanto yang ke-2, Nikita Mirzani jadi tidak benar satu bintang tamu yang mendapat tantangan terlibat dalam segmen serupa uji nyali.

Nikita yang mengaku baru pertama kali ikuti tantangan berikut diminta untuk bisa bertahan di sebuah gedung nan horor lebih berasal dari 12 menit.

Di menit awal, Nikita yang malam itu mengenakan kaus putih berbalut pakaian lengan panjang warna hitam, tampak berkeliling di tidak benar satu sudut gedung kosong nan angker.

Berbekal sebuah lilin dan HT, Nikita mengaku sempat merasakan ada sosok makhluk lain yang tengah mengamatinya di tengah kegelapan.

Saat sementara menyatakan 15 menit 24 detik, Nikita pun berharap Sara Wijayanto dan tim untuk menyudahi dan menghampirinya di wilayah uji nyali.

Janda tiga anak ini pun sempat merasakan tubuhnya kaku dan kesakitan hingga selanjutnya menangis.

“Lututku lemes kaya dipegang,” katanya kepada Sara Wijayanto dan tim.

Tak berapa lama menceritakan pengalamannya sementara uji nyali, kembali Nikita dibuat menangis.

Ia mengaku perutnya merasa mual luar biasa dan sakit. Ia pun kembali menangis.

Tak berapa lama, Sara Wijayanto dan tim mengupayakan menetralisir tubuh Nikita Mirzani.

“Jadi ada sosok perempuan yang mengikat dia ada rasa sedih di dalam dirinya. Dia jalankan suatu hal yang dia sesali, tapi gara-gara ia tidak kuat menjamin beban hidupnya, ia minum racun tapi tidak segera meninggal, ia merasakan kesakitan, dia memberikan rasa sakit itu ke Niki,” kata Sara Wijayanto kepada Niki dan tim yang ada di wilayah gedung horor tersebut.

Niki sendiri mengaku sepanjang melakoni sistem uji nyali sempat merasakan sejumlah kesibukan tak biasa di gedung horor tersebut. Di antaranya lebih-lebih sempat mengupayakan menyentuhnya.

“Tadi ada yang sempat mau megang, tapi tanganku segera saya tarik, ada juga yang kaya membelai rambut gitu,” tukasnya.

Larangan Tabuh Gong di Situ Cangkuang yang Jadi Misteri

Larangan Tabuh Gong di Situ Cangkuang yang Jadi Misteri

Di balik keindahannya, Situ Cangkuang Garut ternyata tersedia misteri yang tersimpan di dalamnya. Ada lebih dari satu misteri yang dipercayai penduduk setempat. Salah satunya larangan menabuh gong.
Kisah mitos itu didasari kepercayaan penduduk setempat pada cerita Arif Muhammad, seorang penyebar agama Islam yang tersohor di kalangan penduduk setempat.

Ada sebuah cerita yang beredar di penduduk mengenai kisah Arif Muhammad yang makamnya berada sama juga di sebelah Candi Cangkuang itu.

Dikisahkan pada zaman dahulu, anak laki-laki berasal dari Arif Muhammad akan dikhitan. Sebelum dikhitan, anak diarak keliling kampung pakai jampana atau rumah-rumahan kecil oleh penduduk setempat dan para pengikut Arif sembari diiringi musik gamelan.

“Namun waktu diarak datang malapetaka bersifat angin topan besar dan membuat anak Arif Muhammad selanjutnya jatuh dan meninggal seketika,” ucap Zaki Munawar, pengelola Candi Cangkuang.

Sejak waktu itu, penduduk di Kampung Pulo, kampung yang berada di dalam kawasan Situ Cangkuang yang dihuni penduduk kebiasaan dilarang untuk menabuh gong.

Larangan selanjutnya dimaksudkan supaya tidak terjadi malapetaka seperti yang menimpa anak Arif Muhammad tersebut. Gong yang tidak boleh ditabuh adalah gong berukuran besar yang terbuat berasal dari perunggu.

“Sejak waktu itu tidak tersedia lagi yang berani menabuh gong,” katanya.

Selain larangan menabuh gong, tersedia sejumlah larangan lain yang sampai kini masih dipercayai oleh penduduk Situ Cangkuang.

Seperti tidak boleh berziarah pada hari Rabu dan tidak boleh meningkatkan bangunan di Kampung Pulo yang jumlahnya tersedia 6. Selain itu, penduduk termasuk selamanya mesti membuat tempat tinggal dengan atap memanjang.

Selain itu, penduduk setempat termasuk tidak tersedia yang berani memelihara hewan berkaki empat tidak cuman kucing.

“Alasannya gara-gara Arif Muhammad tidak senang memelihara hewan yang memakan dedaunan. Jadi tidak tersedia yang memelihara hewan berkaki empat di sini, jika kucing,” ucap Zaki.

Sejarawan Garut Warjita, angkat berbicara mengenai tersebut. Warjita membenarkan adanya bervariasi cerita mitos yang salah satunya adalah larangan menabuh gong tersebut.

“Betul cerita itu sesungguhnya ada. Sampai sekarang cerita dan mitos-mitos selanjutnya masih dijunjung tinggi oleh penduduk kebiasaan Kampung Pulo,” kata Warjita.

Warjita menjelaskan, kendati dipercaya masyarakat, sampai waktu ini kebenaran mengenai cerita itu belum dapat dibuktikan kebenarannya. Bahkan, jika dilihat berasal dari sudut sejarah, makam Arif Muhammad yang konon dikisahkan sebagai penyebar agama Islam itu masih misterius.

“Kalau sebagai cerita ya boleh saja. Tapi, jika berasal dari segi sejarah, sampai sekarang belum tersedia penelitian yang mengutarakan hal tersebut,” tutup Warjita.

Terlepas berasal dari semua hal tersebut, Situ Cangkuang adalah sebuah daerah wisata yang menjadi salah satu yang banyak dikunjungi wisatawan.

Terdapat candi yang dikelilingi danau berukuran lebih kurang 10 hektare. Selain Candi, yang menjadi energi tarik adalah rakit atau perahu kayu yang didorong manual pakai tongkat.

Wisatawan yang datang kebanyakan menyewa jasa rakit untuk mengitari wilayah candi.

Selain mantap untuk dijadikan daerah bersantai sambil rekreasi, daerah ini termasuk cocok dijadikan sebagai wahana wisata religi. Di Situ Cangkuang wisatawan dapat studi toleransi.

Hal itu dilihat berasal dari adanya makam Arif Muhammad yang merupakan penyebar agama Islam serta Candi Cangkuang yang merupakan bangunan buatan Hindu. Posisi makam Arif dan candi pas berdampingan di sana.

Misteri Aroma Daging Terbakar di Area Pertokoan Klender

Misteri Aroma Daging Terbakar di Area Pertokoan Klender

– Area pertokoan Klender dulu terimbas kerusuhan terhadap momen 1998. Bekas kerusuhan ini sesudah itu menjadi pemicu desas-desus cerita hantu area pertokoan Klender. Konon, ada warga yang mencium bau daging terbakar di sekitar kawasan itu.
Salah satu titik kerusuhan ini ada di Plaza Yogya Klender. Dikutip berasal dari web site jakarta.go.id, terhadap awalnya Plaza Yogya Klender dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang lengkap bersama kehadiran toko serba ada, bioskop, diskotik, restoran, area bermain anak yang lumayan dikenal di kalangan warga Klender dan sekitarnya.
Toko serba ada Yogya yang ada di dalam plaza tersebut, merupakan salah satu berasal dari Toserba Yogya milik Yogya Group. Sebuah kelompok perusahaan ritel di Indonesia bersama format supermarket dan departement store yang beroperasi di wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Jawa Tengah.

Dari temuan seorang peneliti, Ester Indahyani Yusuf dan kawan-kawannya, dijelaskan bahwa kejadian terhadap tanggal 14 Mei 1998 di Plaza Yogya Klender itu di mulai terhadap pagi hari.

Pada pukul 09.00 WIB, Yogya Plaza sempat buka namun sesudah itu ada instruksi untuk menutup plaza dan seluruh karyawan disuruh turun terlihat gedung. Kemudian pukul 10.40 WIB, makin lama banyak massa berkumpul di sekitar Yogya, diantaranya massa termasuk terlihat kumpulan anak-anak sekolah yang dipulangkan lebih cepat.

Bertepatan bersama jam terlihat sekolah tersebut, beberapa besar berasal dari anak-anak itu termasuk berkumpul di pusat pertokoan Yogya Klender yang pada mulanya sebetulnya telah banyak massa berkumpul. Sekitar pukul 12.00 WIB, berjalan perkelahian pelajar di sekitar Jl. I Gusti Ngurah Rai, mereka saling melempar batu. Sekitar 30 orang pelajar masuk pemukiman namun diusir warga, gara-gara warga kuatir dirugikan mereka. Entah bagaimana, kerusuhan pun berjalan dan meluas. Toko dibakar massa dan korban-korban yang terjebak di dalam toko ikut terbakar.

Perusakan, penjarahan dan pembakaran bangunan ini mengundang banyaknya jumlah korban jiwa yang meninggal berasal dari mereka yang tinggal di sekitar wilayah ini, diantaranya berasal berasal dari kelurahan Jatinegara Kaum. Kejadian ini termasuk menyisakan duka mendalam terhadap banyak keluarga korban dan seluruh bangsa Indonesia sampai saat ini. Dalam Peta Ingatan Tragedi Mei yang dibuat oleh Komnas Perempuan, Plaza Yogya Klender menjadi salah satu titik yang mewakili momen Mei 1998.

Aroma Daging Terbakar Hingga Angkot Hantu

Semenjak itu, area pertokoan Klender kerap diliputi cerita-cerita mistik. Dikutip berasal dari buku ‘666 Misteri Paling Heboh: Indonesia & Dunia’, dulu ada warga yang mengaku mencium aroma daging terbakar saat melintasi area pertokoan itu.

Ada pula warga yang mengaku dulu melihat dua sosok mahkluk yang terbakar dan penuh darah. Selain itu, ada pula warga yang bercerita soal pengalamannya naik angkot dan seluruh penumpangnya orang-orang berwajah gosong.

Cerita-cerita misteri di area perkotoan Klender itu sesudah itu diadaptasi Hitmaker Studio bersama Soraya Intercine Films menjadi sebuah film horor berjudul ‘Mall Klender’ terhadap tahun 2014. Pihak Soraya film saat itu yakin urban legend yang terlampau tersohor ini perlu diangkat menjadi film. Karena mereka yakin itu kisah nyata.

Cerita Hantu di Jalur Kecelakaan Maut Santiong Cimahi

Cerita Hantu di Jalur Kecelakaan Maut Santiong Cimahi

Suatu daerah udah barang pasti punya urban legend yang dipercaya oleh masyarakatnya secara turun temurun. Termasuk di Kota Cimahi yang sebenarnya beberapa kawasannya seakan menegaskan bahwa urban legend yang dikisahkan nyata adanya.
Selain ereveld di Jalan Kerkoff, Leuwigajah yang punya kisah mistis, Jalan Kolonel Masturi, yang termasuk oleh penduduk dikenal sebagai daerah Santiong termasuk menyelipkan satu kisah mistis tersendiri. Apalagi di satu titik, pas melalui jalur yang menghubungkan Cimahi dan Cisarua itu akan melalui dua daerah pemakaman di sisi kiri dan kanan.

Dari arah Cimahi, satu kilometer dari persimpangan Citeureup, kita akan melalui permakaman Santiong di sisi kiri dan TPU Muslim Cipageran di anggota kanan.

Layaknya pemakaman, selamanya ada cerita-cerita horor yang mengiringi keberadaannya. Apalagi, di ruas jalur yang konturnya menurun curam itu sempat berlangsung beberapa kejadian kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa.

Kecelakaan paling kronis berlangsung terhadap tahun 2016 silam. Sebuah bus pariwisata menabrak lima kendaraan sampai mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia.

Lalu apa hubungannya? Banyak warga percaya jikalau pas kita melintas kawasan tersebut, tidak boleh laksanakan hal-hal sembrono maupun berbicara seenaknya atau didalam bhs Sunda dikenal dengan ‘sompral’.

Komarudin, warga setempat, menyebut apabila sompral pas melalui Jalan Kolonel Masturi maka bukan tidak bisa saja pengendara akan lihat sosok penunggu yang menyerupai sesosok pria tanpa kepala. Belum ulang kabarnya ada kuntilanak yang bergelayut di atas pohon bambu yang sebenarnya layaknya memayungi sisi kiri dan kanan di dekat dua kuburan.

Suasana seram yang terpancar dari daerah tersebut, seakan diperkuat dengan minimnya penerangan jalur yang ada. Jika diamati dari atas maupun bawah, Jalan Kolonel Masturi terhadap jadi hari mirip lorong panjang gelap yang tak punya ujung.

Namun jikalau berbicara dari sisi lain, kawasan Jalan Kolonel Masturi yang masuk ke wilayah Kecamatan Cipageran punya nilai sejarah yang kental. Sebab di makam yang dianggap angker oleh masyarakat, justru merupakan daerah bersemayamnya jasad dua leluhur Cimahi zaman dulu.

Di TPU Cipageran misalnya, ada makam Mbah Wirasuta dan istrinya Eyang Fatimah Sariwangi yang ditaruh di bangunan spesifik di tengah daerah permakaman.

“Bagi penduduk Cimahi terlebih Cipageran, mereka dianggap sebagai leluhur gara-gara mengakses wilayah Cipageran jadi permukiman dan berperan menyebarkan Islam di wilayah ini,” kata praktisi sejarah dan ketua Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok.

Cipageran termasuk mampu jadi merupakan cikal akan lahirnya Cimahi sebagai anggota dari distrik Cilokotot terhadap jaman penjajahan Belanda dulu. Sebab dipercaya jikalau Kedatangan Mbah Wirasuta di daerah berikut lebih pernah ketimbang pembangunan Jalan Anyer Panarukan oleh Daendels terhadap 1811.

“Bisa jadi Cimahi ini sebenarnya berawal dari Cipageran. Tapi yang penduduk ingat dari Santiong ini justru cerita-cerita mistisnya. Padahal kita menyadari nilai sejarahnya terlampau kental,” terangnya.

Misteri Maung Bungkeleukan hingga Nenek Penjual Kol di Gunung Guntur Garut

Misteri Maung Bungkeleukan hingga Nenek Penjual Kol di Gunung Guntur Garut

Gunung Guntur di Garut, Jawa Barat menaruh segudang cerita mistis di balik panorama dan keindahan alamnya. Satu dari sekian banyak mitos yang ada di sana adalah larangan meniup suling dan juga maung bungkeleukan (penampakan macan-red)
Gunung bersama tinggi 2.249 mtr. di atas permukaan laut (MDPL) ini terdapat di Kecamatan Tarogong Kaler. Di balik keindahannya, ternyata Gunung Guntur menaruh beragam misteri.

Dari sekian banyak misteri yang ada, ada dua mitos yang hingga kini tetap dipercayai masyarakat setempat. Kedua mitos tersebut adalah larangan meniup suling dan legenda maung bungkeleukan atau macan gentayangan.

Sebagian masyarakat setempat tetap mempercayai terdapatnya mitos larangan meniup suling di Gunung Guntur. Seperti dirasakan Uche (38), seorang warga Cimanganten, Tarogong Kaler.

“Kalau kata orang tua mah maung bungkeleukan. Kalau ada yang niup suling, maung bungkeleukan akan menampakkan diri katanya,” ujar Ucheu.

Mitos perihal larangan meniup suling, sambung Ucheu, tentang bersama legenda maung bungkeleukan. Berdasarkan cerita yang dikisahkan orang tuanya, maung bungkeleukan akan menampakan diri disaat seseorang meniup suling di Gunung Guntur.

Terkait hal tersebut, beberapa pas silam detikcom dulu berbincang bersama Ening Maidah, seorang nenek masyarakat Kampung Bojong Masta, Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler.

Ening mengatakan, mitos larangan meniup suling dan maung bungkeleukan sebetulnya dikisahkan oleh orang tua zaman dahulu kepada anak-anaknya.

Namun sepengetahuan Ening, mitos tersebut tentang bersama masa pemberontakan DI/TII di Jawa Barat th. 60an lalu.

“Gak boleh niup suling itu artinya gak boleh ribut. Dulu kan tetap ada DI/TII di sekitaran sini. Seingat emak, ABRI itu menyuruh diam ke warga pas menangkap anggotanya DI/TII. Biar gak terhadap kabur,” kata Ening.

Ening mengatakan sekitaran Gunung Guntur dulunya dipakai sebagai daerah persembunyian pasukan DI/TII. Anak kecil pas itu dilarang berisik terutama pas malam hari untuk jauhi gerombolan DI/TII.

“Kalau tidak salah, pas itu Pak Karto (Kartosoewirjo) ditangkapnya kan di sekitaran sini. Di Gunung Geber (berdampingan bersama Gunung Guntur),” katanya.

Menanggapi hal tersebut, sejarawan Garut Warjita membuka suara. Menurut Warjita, mitos maung bungkeleukan cuman cerita yang beredar di masyarakat tidak ada dalam histori Gunung Guntur.

“Kalau maung bungkeleukan saya baru dengar. Itu tidak ada dalam histori Gunung Guntur tapi mungkin ceritanya beredar dan dipercayai masyarakat setempat,” katanya.

Warjita mengatakan, cerita maung bungkeleukan tidak ada dalam histori Gunung Guntur. Namun, cerita tersebut merupakan cerita turun-temurun yang dikisahkan sesepuh setempat kepada anak-cucunya.

“Tapi kalau dengar cerita dari masyarakat setempat dan kaitannya bersama pemberontakan DI/TII itu masuk akal juga. Namun, sejauh yang saya ketahui, maung bungkeleukan itu tidak ada dalam sejarahnya,” tutup Warjita

Hingga kini, setidaknya sejak th. 2000an, mitos perihal maung bungkeleukan itu tidak dulu terbukti. Meski begitu, kerap berlangsung keanehan-keanehan di Gunung Guntur.

Yang terbaru, keanehan berlangsung dalam hilangnya Afrizal, seorang pendaki yang menghilang di Gunung Guntur beberapa pas lalu.

Afrizal hilang misterius sehabis kencing sembrono di sana. Dia berhasil ditemukan tim SAR dua hari kemudian.

Selain itu, keanehan di Gunung Guntur terhitung dulu dirasakan Atin (43). Ibu dua anak ini mengaku dulu memandang sosok nenek-nenek yang berjualan kol di Gunung Guntur. Begini kisahnya

“Saat itu saya, anak dan suami olahraga jalur kaki di kaki Gunung Guntur. Kita berjumpa serupa nenek-nenek telah terlampau tua. Dia menawarkan kol pas kami berlangsung ke arahnya,” Kata Atin.

Atin mengatakan, dikarenakan tengah olahraga, mereka menolak tawaran sang nenek. Mereka lantas bergegas ulang berlangsung melalui sang nenek dan konsisten menanjak ke Gunung Guntur.

“Nah, sekitar 100 meteran jalan, dikarenakan kami rasa telah memadai jauh, kami memastikan untuk ulang ulang ke bawah. Tapi tepat kami balik ulang nenek itu telah enggak ada,” ucap Atin.

“Saya pikir aneh terhitung dikarenakan situasi nenek itu telah terlampau tua pas dilihat. Dia enggak mungkin mampu jalur cepat. Selain itu, situasi di wilayah pas itu adalah jalur tanpa ada halangan. Enggak ada belokan atau turunan juga. Kita aneh terhitung pas itu si nenek ke mana,” tutup Atin.

Meskipun begitu, Gunung Guntur tetaplah primadona terutama bagi para penggemar hiking. Gunung Guntur memiliki track yang disebut-sebut terlampau cocok untuk pemula.

Selain itu, Gunung Guntur terhitung memiliki panorama indah dan juga hamparan padang ilalang yang kerap dijadikan spot foto oleh wisatawan.

Satu-satunya hal menakutkan yang terlampau berlangsung di Gunung Guntur adalah pungli dan pemalakan yang kerap dijalankan oleh oknum masyarakat tak bertanggungjawab.

Polisi beberapa pas selanjutnya dulu mengamankan seorang warga yang memalak wisatawan yang hendak mendaki ke puncak Gunung Guntur.