Rumah Kos Bekas Pesugihan

Sedangkan Ifa serta Ani, mereka berdua kekhawatiran serta silih bergandengan tangan. Ifa meratap sebaliknya Ani padat jadwal istighfar.

” Hei kamu mengapa diem aja di sana, mari membantu!” hardik Muh. Sigit lalu meronta. Tenaganya amat kokoh sekali, kita berdua hingga kewalahan. Ani serta Ifa sedang belum beranjak dari tempatnya.

” Saya khawatir…” ucap Ifa sembari nangis.

” Heh mari membantu kita tak kokoh ini!” ujarku.

” Fa ambil ikatan Fa!” perinta Muh.

Ani membantu kita megangin Sigit, Ifa langsung berangkat nyari ikatan. Astaga apalagi dipegangin 3 orang, Sigit sedang aja kokoh. Kita bertiga hingga kewalahan nahan Sigit. Muh hingga psikologis karena sigit sewot. Saya komat komat- kamit, baca Bagian Bangku hingga nge- blank. Sebaliknya Ani lalu bersolawat.

” Muh anda tak papa?” ucap Ifa sembari membantu Muh bangun. Muh menggelengkan kepala.

” Kamu, mari membantu kita!” ucap Ani. Muh serta Ifa membantu kita.

” Mari Fa iket Sigit. Kita pegangin!” ucap Muh.

Ifa mengikat kaki Sigit kemudian melilitkannya ke tubuh. Sebaliknya kita bertiga semantap daya nahan Sigit serta berupaya merendahkan tangannya. Kita betul- betul bertugas keras. Keringatku mulai pergi serta menyiram tubuh. Ugh tenaganya betul- betul kokoh sekali.

” Mari tangannya turunin!” perintah Ifa.

” Iya! Ini pula lagi berupaya kita. Ehm… astaghfirulloh kokoh sekali tenaganya,” ucap Muh suaranya terdengar berat. Sedangkan Sigit lalu memekik serta meronta.

” Kya…” Ani jatuh tersungkur ke lantai.” An tak papa?” tanyaku. Ani menggelengkan kepalanya serta bangun berdiri kemudian kembali menolong kita nahan Sigit.

” Udah, udah menyudahi. Sia- sia tenaganya Sigit sangat kokoh. Fa ikat kakinya aja mangsa! Habis itu kamu berangkat ke langgar memohon dorongan banyak orang di langgar,” ucap Muh putus asa.

Ifa menganggut serta mengikat kakinya Sigit.” Mari An!” ucap Ifa. Ani menganggut. Ani membebaskan Sigit.

” Kamu berdua tak papa kita tinggalin?”

” Tak papa udah janganlah kuatirin kita, mangsa berangkat cari dorongan!” ucap Muh.

” Mari An!” ucap Ifa. Ifa menarik tangan Ani mereka berdua kabur berangkat ke luar. Sedangkan saya serta Muh sedang megangin Sigit, kita sedang berupaya menahan Sigit.

” Abang, gimana ini? Abang Sigit kokoh sangat, hingga habis tenagaku megangin ia,” keluhku.

” Adem Buh, bertahan janganlah hingga Sigit ngamuk serta ngancurin rumah orang,” ucap Muh.

Seketika Sigit meronta. Tenaganya yang kokoh membuat kita berdua terus menjadi kewalahan. Pegangan tanganku terbebas. Sigit mendesak Muh. Saking kuatnya daya Sigit. Ikatan rafia yang Ifa ikatkan di kakinya hingga putus.

” Astaghfirulloh alhadzim, abang gimana?” tanyaku.

Muh sedang bersandar di lantai, ia cuma menggelengkan kepalanya sembari bermuka masam kesakitan.

” Kita kabur ke luar aja hayuk!” ajakku.

” Janganlah. Iba Sigit jika ditinggal seorang diri. Esok ia kenapa- kenapa.”

” Mereka berdua lama sekali sih,” saya mulai belingsatan.

Arrggh… Arrgghh… Sigit menggila sembari lalu memekik serta menjerit- jerit. Ia menendang pintu kamar kosong yang terdapat di sisi kamarku. Tidak cuma sekali tidak tahu berapa kali ia menendang, pintu kamar itu hingga jebol serta terbuka.

Muh mendatangi Sigit serta memegangi tangannya tetapi dengan gampang Sigit membebaskan pegangan tangannya Muhammad. Saat ini justru Muh yang ditarik masuk ke dalam kamar kosong itu. Saya belingsatan, bimbang, khawatir seluruh aduk campur jadi satu. Mau rasanya saya kabur serta melindungi diri tetapi gimana dengan Muh? Ah saya jadi serba salah.

Jika saya ninggalin ia gimana dengan nasibnya? Tetapi jika saya membantu ia, itu berarti saya mengaitkan diriku dalam ancaman. Saya senyap tertegun memandang Muh dihajar oleh Sigit. Walaupun Muh memiliki ilmu membela diri tetapi ia kewalahan melawan Sigit yang kerasukan.

” BRUAK!” Sigit mendesak Muh dengan keras sampai menghantam lemari. Muh jatuh tersungkur ke lantai.

Sigit jalur mendatangi Muh. Tanpa pikir jauh saya kabur serta langsung menarik Sigit. Saat ini ubah saya yang diserbu oleh Sigit. Ia menggenggam leherku saya meronta berupaya membebaskan diri dari cengkaman tangan Sigit. Sembari lalu berharap dalam batin. Muh kembali bangun serta menolongku. Tetapi dengan gampang Sigit menghempaskannya.

Argh… saya memekik kesakitan, dadaku ketat. Sigit menaruh tangan kirinya di atas kepalaku. Seketika pandanganku jadi angkat kaki serta hitam. Saya lenyap pemahaman. Buat sebagian dikala saya tidak mengerti apa yang terjalin.

Kala saya tersadar saya telah terletak di hutan. Hutan yang amat rindang, apalagi sinar mentari juga tidak dapat mendobrak tebalnya awan yang menyelimuti hutan ini. Saya bangun serta beranjak berdiri, mataku menerawang memandang langit serta sekelilingku.

” Di mana ini?” gumamku.” Muh…. abang… abang Muhammad, anda di mana abang? Abang….!” teriakku.

Saya bimbang, khawatir jantungku berdebar cepat.” Terdapat di mana saya ini?” gumamku belingsatan.

Hutan ini amat menyeramkan sekali. Suasananya yang hening, sepi membuatku merinding, bulu kudukku berdiri. Kuputuskan buat lekas berangkat dari tempat itu. Saya berjalan tidak pasti arah. Saya terus menjadi kekhawatiran, mulai kupercepat jalanku setelah itu saya berlari. Kabur, kabur serta lalu berlari cepat. Sembari berlari sesekali saya berpaling ke balik.

” Kya… Byur..!” saya terguling ke bengawan serta karam. Saya berenang serta berupaya naik ke dataran. Kepalaku timbul ke atas air. Profit air bengawan ini arusnya hening, saya menarik napas dalam- dalam serta menata nafasku sembari memejamkan mataku. Beberapa rambutku menutupi wajahku. Mataku sedang terkatup, saya tidak mau air masuk ke dalam mataku.

Kusibakkan rambutku serta menyapu wajahku yang berair dengan air bengawan. Saya membuka mata. Astagfirulloh alhadzim, saya tidak menyakini dengan apa yang kulihat. Di dalam bengawan ini terdapat banyak sekali bangkai terapung. Saya terletak di tengah- tengah mereka. Saya betul- betul kekhawatiran, tubuhku gemetaran memandang mayat- mayat dengan situasi yang memprihatinkan yang nyaris memburuk. Air bengawan beraroma amis.

” Kya…! Toloong… toloong..” teriakku dengan sekencang- kencangnya. Saya berenang, berupaya ke pinggir. Menyibak mayat- mayat yang terapung di sekitarku. Rambut mayat- mayat ini melekat ke wajahku. Saya lalu berenang sembari meratap, dadaku ketat menahan rasa khawatir. Saya lalu berupaya ke pinggir, saya menjaga posisi kepalaku supaya senantiasa di atas buat dapat senantiasa bernafas.

Lesu. Tenagaku terkuras habis, hingga di pinggir bengawan kuraih tanah serta merangkak naik, semantap daya berupaya pergi dari dalam bengawan. Saya bersandar di perbatasan bengawan sejenak sembari meratap berupaya menata nafasku serta mengakulasi daya.

Saya beranjak berdiri kemudian jalur meninggalkan bengawan yang dipadati dengan mayat- mayat yang nyaris memburuk. Di bengawan, di perbatasan bengawan banyak sekali bangkai yang berantakan pria, wanita, anak, berumur, belia aduk jadi satu. Terdapat yang matanya nyaris bebas, terdapat yang beberapa wajahnya sirna. Mayat- mayat itu semacam kotor. Tak terdapat satu juga di antara gundukan mayat- mayat yang berantakan itu yang mengenakan pakaian.

Saya berangkat meninggalkan tempat itu. Tahap kakiku terasa berat, jalur juga sempoyongan. Saya betul- betul amat lesu sekali. Kuhapus air mata yang mulai mulanya mengalir tanpa dapat kubendung. Saya lalu berjalan tanpa ketahui arah yang mau kutuju. Sebagian kali saya jatuh tersungkur sebab lesu kehabian daya. Dengan sedikit sisa- sisa daya saya berupaya bangun serta kembali bardiri.

” Toloong… toloong…” teriakku. Ah sial sementara itu saya telah berupaya jerit sekeras bisa jadi, tetapi suaraku justru serak serta tak dapat keras. Tenggorokanku kering, nafasku ngos- ngosan. Saya betul- betul dahaga serta keletihan. Saya lalu berjalan sembari sempoyongan serta” Bruak!” Saya terguling lagi. Tidak tahu udah berapa banyak saya terguling.

Saat ini tenagaku betul- betul habis. Saya tidak mampu lagi buat bangun serta berdiri. Saya senyap bersandar di tempatku terguling. Inginku kembali berteriak.

” Ah bebal sekali, ini hutan mana bisa jadi terdapat orang di mari,” gumamku dalam batin. Saya lalu meratap, mulutku tidak henti- hentinya merapalkan berkah yang kuingat.

Kepalaku pusing. Seketika mataku pusing. Saya menghenyakkan tubuh di atas tanah. Sembari lalu meratap kulihat langit. Saat ini yang terdapat di dalam otakku saya tentu mati. Tidak terdapat yang dapat saya jalani tidak hanya pasrah saat ini. Terus menjadi lama kepalaku terus menjadi terasa sakit serta berat. Terus menjadi lama pandanganku terus menjadi angkat kaki serta hitam. Saya mau bangun tetapi tubuhku tidak dapat dibawa kegiatan serupa. Lesu terasa berat. Badanku semacam mengakar di atas tanah ini. Saya kehabisan kesadaranku. Tidak tahu buat berapa lama. Kala saya tersadar serta membuka mataku. Terdapat banyak nanai mengelilingiku serta memandangiku. Terdapat yang naik di atas badanku.

Saya terkejut serta langsung beranjak berdiri. Monyet- monyet ini banyak sekali. Saya seorang diri di mari dikelilingi ratusan monyet. Mereka terdapat yang memandangiku. Terdapat yang bersandar atas tumbuhan. Anda ketahui, yang terdapat di benakku monyet- monyet itu tentu hendak menyerangku.” Saya wajib kabur,” gumamku dalam batin. Saya memandang sekelilingku. Di antara para monyet itu terdapat wujud gelap besar besar yang jaraknya lumayan jauh. Saya tidak dapat melihatnya dengan nyata tidak tahu itu apa.

Tanpa buang- buang durasi saya langsung berlari sembari jerit” ALLAH HUAKBAR…” lalu berteriak ALLAH HUAKBAR. Saya berlari tidak tahu ingin ke mana. Pokoknya kabur, kabur serta lalu berlari. Sampai kesimpulannya saya pergi dari hutan. Saya menciptakan jalur selangkah serta lalu kuikuti jalur itu walaupun saya tidak ketahui jalur ini membidik ke mana. Ah percaya saja udah, kulangkahkan kakiku menapaki jalur selangkah ini.

Bajuku yang berair saat ini kembali mengering, kotor penuh tanah.

Buram buram kulihat terdapat seorang berdiri depan jalur. Kuhentikan langkahku. Saya senyap mematung sembari mencermati seorang yang berdiri jauh di depanku. Jarak pandangku terbatas oleh awan.

” Alhamdulilah terdapat orang,” gumamku.

Kulangkahkan kembali kakiku, saya mau mendatangi seorang di akhir jalur itu. Kupercepat tahap kakiku supaya saya lekas hingga serta menghampirinya.

” Menunggu! Itu orang ataupun bukan?” tanyaku dalam batin. Tidak tahu mengapa terbersit benak itu di benakku. Kuhentikan langkahku. Saya lalu melihat wujud yang berdiri di akhir jalur situ. Saya kening mataku berambisi dapat memandang sedikit lebih nyata wujud yang berdiri di depanku itu orang ataupun bukan.

” Tidak, tidak itu tentu bukan orang. Ayolah Ajaran janganlah bebal, ini di tengah hutan yang tidak tahu di mana. Tidak bisa jadi terdapat orang. Itu tentu makhluk halus. Ataupun seseorang pembunuh yang sudah menewaskan banyak orang yang mayatnya berantakan di bengawan mulanya,” gumamku.

Saya memakan air liur sembari lalu melihat wujud yang berdiri di depanku. Lambat- laun saya berjalan mundur. Saya langsung berputar serta kabur.” Ajaran!” terdengar jeritan suara seseorang laki- laki memanggil namaku. Saya lalu berlari serta melalaikan panggilan itu, suara itu berawal dari arah balik. Bisa jadi wujud itu yang memanggilku.” Ajaran, hey Ajaran menyudahi!” Perintah adam itu.

Saya menyudahi berlari serta balik tubuh memandang orang itu. Samar- samar orang itu nampak berjalan menghampiriku. Saya kaku kekhawatiran. Saya mau kabur tetapi saya pula penasaran dengan seorang yang memanggilku. Saya berdiri mematung sembari mulutku komat komat- kamit membaca berkah. Keringat mengalir ke wajah serta janggutku. Tubuhku gemetaran mataku senantiasa tertuju pada wujud yang berjalan mendekatiku. Saya tidak mau alihkan pandanganku padanya. Jika itu makhluk halus ataupun pembunuh saya wajib kilat kabur. Lambat- laun saya berjalan mundur.

Nampak seseorang laki- laki dengan pakaian serba putih yang mukanya tidak dapat kulihat dengan nyata, ia berjalan sedemikian itu kilat.

” Srek, srek, srek.” Dari arah kiriku terdengar suara semak- semak serta daun- daun kering yang bergesek semacam disibak. Saya langsung berpaling ke arah kiri, nampak semak- semak beranjak. Terdapat wujud gelap yang melompat ke arahku. Saya tersentak tanganku ditarik seorang dengan agresif sampai membuatku terpental.

” Bruak!” Saya jatuh tersungkur ke tanah. Telapak tangan serta dengkulku baret tidak tahu menghantam apa. Saya berupaya bangun serta kulihat laki- laki berpakaian serba putih itu lagi berkelahi dengan genderuwo. Saya kekhawatiran, otakku tersumbat tidak tahu apa yang kupikirkan. Memandang mereka berdua berkelahi tanpa berasumsi jauh saya langsung kabur melindungi diri serta meninggalkan mereka.

Tenagaku habis, saya menyudahi berlari. Di dasar tumbuhan saya berdiri menunduk tanganku sembari memegangi lututku. Nafasku berburu. Saya berdiri berdiri serta menata napas, saya lagi, lagi meratap. Ah payah sekali saya ini.

Seketika terdapat tangan menggenggam kakiku. Reflek saya langsung beranjak berangkat tetapi tangan itu menarikku serta saya terguling. Saya berputar serta memandang wujud wanita dengan tangan penuh darah, rambut yang berantakan serta wajah yang sirna. Wanita itu tidak memiliki kaki. Kakinya sirna.

” Kya….!” Saya berteriak tetapi suaraku tidak dapat pergi. Wanita itu ngesot merangkak mendekatiku serta nyaris menggenggam kakiku.” Bantu…” ucapnya lembut. Suaranya terdengar berat. Kupejamkan mataku rapat- rapat. Badanku gemetaran kakiku lesu tidak terdapat daya.

” Berangkat!” Terdengar suara seseorang laki- laki menghardik. Saya terus menjadi kekhawatiran.

” Buka matamu!” perintah pria itu. Lambat- laun saya membuka mataku. Seseorang laki- laki dengan busana serba putih berdiri di depanku sembari membelakangiku.

” Bangunlah!” perintahnya. Tanpa menanggapi perkataannya saya beranjak berdiri sembari lalu menahan isak.

” Janganlah khawatir nduk, saya sahabat kakekmu,” ucap laki- laki itu. Saya berdiri di belakangnya. Genderuwo itu kembali mendatangi kita.

Laki- laki itu kembali berkelahi dengan Genderuwo itu. Saya senyap di tempatku sembari mencermati mereka.

” Ajaran, nduk mari turut dengan ayah!” seseorang laki- laki catok berumur yang tak mengerti dari mana datangnya seketika telah berdiri di belakangku. Laki- laki catok berumur menggunakan pakaian koko serta sarung itu berjalan menghampiriku.

” Mari turut ayah nduk!” ajaknya. Saya menggelengkan kepala sembari berjalan mundur. Ayah itu mendekatiku.” Janganlah khawatir ayah hendak membawamu kembali, mari turut ayah,” ucapnya.

Saya tidak menjawabnya. Saya berpaling ke arah laki- laki yang berterus terang bagaikan sahabat kakekku yang lagi bekelahi dengan Genderuwo itu. Genderuwo itu kewalahan dikeroyok oleh 2 orang yang tidak tahu bila datangnya.

” Yang menolong laki- laki itu, ia sahabat ayah, janganlah khawatir ayah bukan orang kejam. Mari turut ayah berangkat, di mari bukan tempatmu,” ucap ayah itu.

Tidak terdapat opsi lain, saya menganggukkan kepala tanpa sepatah tutur juga pergi dari mulutku, saya jalur menjajaki ayah itu. Ayah itu berjalan sembari menggandengku. Kita lalu berjalan, di depan kita terdapat sinar yang membelah awan tebal. Kita berjalan ke arah sinar itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *