Kisah Masjid di Malang yang Dibangun Jin dalam Semalam

 

Ini kisah tentang Masjid Tiban di Malang yang konon dibangun jin dalam semalam. Apakah benar seperti itu?

Bangunan dengan arsitektur bergaya Timur Tengah yang terlihat sangat megah ini merupakan bangunan Masjid Tiban yang terletak di Kecamatan Turen, Malang, Jawa Timur.

Letaknya yang berada di pemukiman warga, membuat saya sempat tidak percaya dengan adanya bangunan super megah tersebut, karena untuk menuju lokasinya saja saya harus melewati jalanan yang hanya muat untuk satu kendaraan mobil ataupun bus.

Adanya misteri dalam pembangunan masjid tersebut membuat banyak orang yang penasaran tentang bagaimana bisa bangunan semegah dan seindah itu dibangun di tengah pemukian warga tanpa terlihat oleh warga sekitar adanya aktivitas pembangunan dengan bantuan alat alat berat?

Konon menurut isu yang beredar di masyarakat, bangunan tersebut dibangun dalam satu malam dengan bantuan jin. Namun setelah banyaknya orang yang penasaran dengan kebenaran isu tersebut, mereka pun ingin melihat dan bertanya langsung padapenduduk sekitar.

Menurut pengakuan warga sekitar, bangunan tersebut didirikan bukan dengan bantuan jin yang sesungguhnya, akan tetapi jin yang dimaksud adalah para santri pondok pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah yang terletak di satu kawasan dengan Masjid Tiban Turen.

Warga tidak melihat adanya aktivitas pembangunan dikarenakan saat pembangunan, masjid memang tertutup dan tidak melibatkan warga sekitar, sehingga warga sekitar baru melihat adanya pembangunan saat masjid telah dibuka dan sudah menjadi bangunan yang besar.

Ketertarikan saya dengan sejarah pembangunan masjid yang sangat megah dan indah inilah yang membuat saya mengunjungi Masjid Tiban Turen ini.

Bagi pengunjung yang mengendarai sepeda motor dapat menitipkan kendaraannya di lahan parkir yang disediakan oleh warga sekitar. Untuk masuk ke kawasan masjid tidak dipungut biaya, namun saat akan masuk ke dalam bangunan masjid pengunjung akan diberikan karcis untuk diserahkan ke bagian informasi saat keluar dari bangunan masjid, dan pengunjung dihimbau untuk membawa sendiri alas kakinya, tidak ditinggalkan didepan masjid.

Karena saya berkunjung tepat waktu zuhur, sayapun langsung mencari tempat untuk salat. Saat mencari tempat wudhu saya melihat isi bangunan tersebut terdapat banyak tangga yang tidak terlalu tinggi menghubungkan tempat satu ke tempat lainnya.

Selain itu, saya juga melihat banyak kamar dengan peruntukan yang berbeda beda, konon fungsi dari tiap tiap kamar yang dibuat berdasarkan jawaban atas istikhoroh yang dijalani oleh Romo Kiai Ahmad.

Setelah menunaikan ibadah salat zuhur, saya pun kembali menelusuri bagian dalam masjid yang terdapat ukiran-ukiran kaligrafi dan berbagai ornamen khas Timur Tengah terlihat menghiasi permukaan dinding. Tak lupa pula saya mengabadikan interior masjid yang sangat megah ini dengan berfoto bersama teman-teman.

Lalu saya berjalan hingga saya menemukan bagian tengah bangunan yang terbuka atau tanpa atap namun untuk dasarnya menggunakan konblok yang dicat berwarna merah, hijau, dan kuning. Kemudian dilanjutkan hingga menuju bagian masjid lorong masjid yang jalannya menurun dengan lantai, dinding, hingga langit-langitnya berwarna emas menuju bagian belakang masjid.

Sampai di bagian belakang masjid saya menemukan bagian informasi, disini kita bisa membeli cinderamata, DVD tentang sejarah masjid Tiban dan air minuman. Tak hanya sampai situ saja penelusuran saya di Masjid Tiban, saya melanjutkan berjalan di bagian belakang masjid dan menemukan bangunan yang terpisah dari bangunan utama masjid Tiban yang dominan berwarna putih.

Melihat bangunannya saya merasa seperti sedang berada di India, tak henti hentinya saya mengagumi tempat wisata yang saya kunjungi kali ini.

Sungguh Pesona asia yang sangat menakjubkan, gaya arsitektur yang digunakan berasal dari Arab, India, Tiongkok, Nusantara, dengan sentuhan modern. Setelah lelah menelusuri Masjid Tiban yang sangat megah dan luas, saya memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, di bagian luar kawasan masjid terdapat banyak toko yang menjual oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Tips dari saya mengenai perjalanan saya kali ini adalah, untuk kalian yang ingin mengunjungi Masjid Tiban Turen sebaiknya datang pada saat weekdays terutama hari jumat tepatnya sesudah ibadah sholat jumat karena sebelum sholat jumat masjid akan ditutup sehingga pengunjung tidak terlalu ramai dan anda dapat leluasa berfoto di spot-spot yang menarik.

Untuk wanita yang tidak berhijab setidaknya gunakanlah baju yang tertutup untuk menghormati tempat ibadah. Tips bagi yang menggunakan motor dan menempuh perjalanan dari pusat kota Malang selama kurang lebih 1 jam seperti yang saya lakukan, sebaiknya mengenakan jaket dan helm untuk melindungi diri dan terhindar dari masuk angin.

Bila melakukan perjalanan jauh, saya selalu membawa tolak angin untuk mengatasi masuk angin. Kemasannya yang praktis sangat memudahkan saya untuk membawa tolak angin kemanapun saya melakukan perjalanan terlebih saat memasuki musim hujan seperti sekarang.

Bagaimana pendapat kalian mengenai cerita saya mengenai kunjungan wisata yang tak hanya mengagumi keindahan arsitekturnya saja tapi juga dapat berwisata religi ke Masjid Tiban Turen ini?

Kalian harus melihat sendiri bagaimana Pesona Asia yang digabungkan dalam sebuah gaya arsitektur yang menghasilkan mahakarya yang begitu megah, hingga sulit mengungkapkan kata-kata yang melebihi sekedar rasa kagum.